Lima Tahun Part 1 : Pertemuan

Selamat datang di Modern Fairytale.

Jadi disini aku pengen ceritain ringkasan hubungan lima tahunku dengan seorang cowok. Cerita ini berawal saat aku duduk di kelas 11 SMA di tahun 2011. Saat itu, Tama (nama samaran) menjadi murid pindahan dari kelas akselerasi ke kelas reguler IPA 1. Kebetulan kelas IPA 1 ini kelasku. Alhasil kita jadinya satu kelas deh waktu itu. Sebagai murid baru, dia terkesan pendiam dan spot tempat duduk yang selalu Tama favoritkan adalah bangku paling belakang sendiri. Berhubung dia pindahan dari kelas akselerasi, jangan ditanya untuk kesan pertama kali kalau Tama adalah murid yang pintar dan rajin. Kesan pertama yang baik untuk membuat teman sekelas dapat menerimanya.

Dua bulan berjalan, Tama mulai sering mengirimi aku pesan. Entah melalui SMS (karena belum ada LINE, WhatsApp, maupun BBM) dan juga melalui facebook. Berjalannya waktu, kita mulai sering jalan bareng sepulang sekolah. Aku bukan ge-er sih tapi emang aku ngerasa dari awal, Tama sengaja pdkt ke aku. Jadi hubungan kita bukan dari pertemanan terlebih dahulu tapi langsung modus kalau kata anak jaman sekarang. Pernah waktu itu aku pergi ke Pujon sama temen-temenku naik bis. Perjalannya jauh dan jalannya juga liku-liku dengan tebing-tebing yang terjal. Daerah Pujon adalah daerah dataran tinggi yang istilahnya udah kayak puncaknya Malang. Waktu aku mau pulang dari Pujon, tiba-tiba Tama dateng. Dia bela-belain dari rumahnya di daerah Malang Selatan jemput aku yang ada di puncak Malang. Mau gak mau sebagai penghargaan atas pengorbanannya, aku pulang bareng dia. Kondisi aku udah capek banget dan niatannya maunya tiduran di bis waktu pulang, eh malah dijemput sama Tama. Perjalanan yang ditempuh jadi lumayan jauh karena kita melewati rute belakang biar gak kena tilang polisi. Habisnya aku gak pakai helm sih hehe. Aku gak banyak cerita sepanjang perjalanan pulang sama Tama karena emang aku gak tahu mau mulai pembicaraan dari topik apa. Akhirnya aku ngantuk dan aku udah gak tahan lagi sama rasa kantukku. Akhirnya, aku ketiduran di punggungnya Tama.

Waktu berjalan dan segalanya semakin intens. Hingga pada akhirnya Tama memintaku untuk menjadi pacarnya. Caranya memintaku menjadi pacarnya sangatlah manis. Udah kayak di FTV-FTV gitu. Dia bawa aku ke Paralayang. Disana pemandangannya bagus banget dan bikin pikiran tenang. Dari Paralayang, kota Batu bisa dilihat dengan mata telanjang dan itu adalah pemandangan kota yang bagus banget apalagi kalau dilihatnya waktu malem hari. Lampu-lampu kota yang dilihat dari atas itu adalah sesuatu yang romantis banget. Oke back to story, waktu kita udah sampai di atas Paralayang, kita duduk-duduk di bawah pohon sambil lihatin pemandangan dan menikmati angin yang sepoi-sepoi (tsah!). Setelah beberapa saat kita ngobrol (aku akuin obrolan kita sebenarnya selalu saja awkward tapi gatau kenapa aku tetep bisa jalan sama dia), dia ngeluarin dua barang yang dibungkus seperti kado. Tama bilang, “Ka, aku suka kamu. Kamu mau gak jadi pacarku? Ambil kotak ini kalau kamu jawab iya, dan ambil bungkusan ini kalau kamu jawab enggak”. Gatau kenapa aku merasa cara yang Tama lakuin ke aku manis banget dan aku merasa melayang berbunga-bunga gitu. Kayak ke hipnotis, sampai akhirnya aku memilih untuk mengambil yang kotak, bukan yang bungkusan. Waktu aku buka, kotak itu berisi gantungan boneka Wall-e (cerita Wall-e kan tergolong cerita yang sweet dan aku mendadak jadi bawa perasaan banget). Terus dia ngeluarin iPod miliknya dan memberikan sebelah headset kepadaku sambil dia bilang, “Ka, dengerin liriknya”. Lagu yang dinyanyiin Ipang dengan judul Akhirnya Aku Jatuh Cinta terdengar di telingaku. Liriknya kayak gini: “Hanya kau yang bisa mengubah hatiku. Tak mungkin ada lagi yang mampu membuatku seperti ini~”. Sumpah, aku luluh banget. Akhirnya, setelah itu kita turun dari Paralayang dengan feel yang beda. Dengan demikian aku resmi jadi pacar Tama.

Sebulan pertama, hubungan kita masih membara-membaranya. Masih sering di cie-cie-in sama temen-temen sekelas. Tiap istirahat dan jam kosong selalu menghabiskan waktu bareng-bareng. Pulang sekolah sering nonton dan jalan-jalan bentar kayak ke mall ataupun ke taman kota (dulu di Malang masih belum banyak cafe seperti sekarang, jadinya ya kalau mau nongkrong atau sekedar makan ringan ya ke mall hehe). Sebulan setelah kita jadian adalah hari ulang tahunku yang ke 17 tahun. Sepulang sekolah, Tama mengajak teman-teman satu kelasku buat ngasih surprise ulang tahun ke aku. Tentu saja semua itu meriah dan lengkap. Kue ulang tahun dan lilinnya, musik selamat ulang tahun, temen-temen yang heboh, disiram telor+tepung, dan sebagai pelengkap yang terakhir adalah kado. Tama memberiku tiga kado sekaligus di hari ulang tahunku. Tama kasih aku Chocolatos satu pack, bola kaca yang dalemnya ada dua kelinci duduk bareng dan bisa muter musik klasik gitu, dan kado yang terakhir adalah note kecil dengan foto-fotoku yang ditempel di setiap lembarannya. Imajinasiku jadi parah banget nglanturnya gara-gara semua hal manis yang sudah Tama lakuin ke aku. Apalagi aku pecinta film bergenre romance. Betapa besar kayalanku tentang cinta sejati seperti yang ada di film-film yang sering aku tonton. Rasanya aku dibawa melayang terus kalau sama Tama. Sikapnya yang dewasa dan romantis bikin aku luluh banget.

Keesokan harinya, kita pergi ke Pantai Balekambang. Itu moment pertama kali aku ke pantai. Dulunya aku selalu takut ke pantai karena yang aku tau kalau pantai di daerah Malang Selatan namanya Pantai Selatan yang konon katanya dikuasai sama Nyi Roro Kidul dan suka cari tumbal gitu. Mitos deng itu ternyata hehe. Naik motor Vega-R warna merah yang udah di modifikasi, kita pergi berdua ke pantai. Aku nyaman jalan-jalan sama Tama walau gak banyak candaan dan lebih banyak diam. Setelah sampai di pantai, kita cari spot duduk yang nyaman buat pentelengin lautan luas. Waktu enak-enak duduk, tiba-tiba dia kasih aku kalung dengan liontin kotak, dan Tama bilang, “Sebenernya kalung ini dulu mau aku kasihkan ke Ina (nama samaran), mantanku. Tapi gak tahu kenapa itu gak pernah terjadi. Kayaknya memang kalungnya memilih kamu”. Mendadak diabetes dengerin kata-katanya. Manis banget di telingaku. Akhirnya dia pakaikan kalung itu di leherku dan kalung itu sempat aku lihatin lama banget. Aku seneng banget. Aku peluk dia untuk pertama kalinya. Lalu aku sibuk dijadikan objek fotonya selama di pantai, dan aku sejak itu tahu kalau cita-cita dia pengen jadi fotografer. Saking senengnya aku dan melambungnya kayalanku, pasir pantai sampai aku bawa pulang buat kenang-kenangan kalau aku ke pantai untuk pertama kalinya bersama Tama.

Hari-hari berlalu bahagia sejak saat itu. Perasaanku kemana-mana. Pikiranku gak tentu arah dan sama sekali tidak berpijak. Batasan rasa suka, sayang, dan cinta sangat tidak jelas sehingga aku juga sulit mendefinisikan bagaimana perasaanku. Dengan perasaan yang masih melayang-layang, aku menuliskan di buku diaryku, bahwa aku mencintainya.

Suatu hari, Tama menuruti permintaanku untuk pergi ke tempat yang (sekali-kali) jauh. Ditempat itu, dia cerita banyak hal tentang masalalunya yang buruk. Dengan senang hati, aku menerima segala masalalunya. Setelah selesai bercerita, Tama memberiku baju batik warna biru dengan setelan yang feminin. Baju batik itu couple dengan punya Tama. Pertama kalinya aku dikasih baju couple-an kayak gini. Ini adalah hal romantis yang setiap cewek seusiaku inginkan. Jelas, perasaanku semakin lama semakin memuncak atas Tama hingga akhirnya aku merasakan cemburu. Karena aku dan Tama masih sama-sama menyesuaikan pribadi masing-masing, aku belum berani terbuka tentang rasa cemburuku ini. Yang aku lakukan hanya marah-marah dan ngambek gak jelas. Aku sama sekali tidak tahu cara mengkomunikasikan permasalahan ini dengan Tama. Baru beberapa hari setelah aku sangat merasa tertekan dengan kecemburuanku, pelan-pelan aku bilang ke Tama dengan bahasa yang acakadul seperti anak kecil yang gak tahu caranya ngomong. Tapi, Tama memahami aku. Dia mengerti bahwa aku dilanda cemburu dan dia meyakinkan aku. Seketika, aku menjadi tenang dan memaafkannya. Betapa bersyukurnya aku memiliki Tama.

Bersambung.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s