Lima Tahun Part 3 : Pembiasaan Diri

Modern Fairytale Part 3 dimulai…

Sejauh ini aku berusaha untuk terus menjadi yang terbaik demi keberlangsungan hubunganku dengan Tama. Mungkin dia juga lakukan hal yang sama. Mungkin. Masalah datang silih berganti dan walaupun dengan pertengkaran, semua berakhir dengan baik. Aku semakin menjaga bagaimana aku berperilaku sedikit demi sedikit. Selain perilakuku, hampir setiap pertengkaran kecil yang terjadi cuma karena cemburu. Aku sempat berpikir, apa cemburu itu suatu kewajiban? Dengan alasan jika tidak merasa cemburu artinya tidak sayang dan tidak peduli. Aku tidak benar-benar memahami apa arti cemburu, apa alasanku cemburu, dan apa alasan Tama cemburu. Tama pernah cemburu sama aku gara-gara aku enak-enakan ngobrol berdua sama temenku yang bernama Budi (nama samaran) di depan kelas. Aku rasa aku hanya membicarakan hal biasa karena aku tau Budi suka sama temen deketku namanya Bunga (nama samaran). Tama bilang, “Kalau berduaan sama cowok lihat kondisi. Jangan sampai orang lain bikin gosip yang gak baik tentang kamu”. Sejujurnya aku gak begiu paham juga sih alasan cemburunya. Cuma aku tidak banyak bertanya. Aku hanya berusaha mengerti. Hal yang bikin kaget ketika Tama cemburu denganku adalah dia tidak segera mengutarakannya kepadaku. Tapi dia akan mendadak murung, stress, dan pelampiasannya main sama cewek-cewek lain. Kalau sudah seperti ini jadinya aku yang cemburu (duh! serba salah). Cemburu dan ketidakpercayaan, bagiku keduanya sama saja.

By the way, aku sudah kelas 12. Selayaknya anak kelas 12, aku mencoba mengubah kebiasanku yang belajar cuma ketika ulangan aja, sekarang aku mencoba tiap hari pegang buku (pegang doang hahaha). Aku mencoba lebih pintar membagi waktu antara main dengan teman-temanku, main dengan Tama, belajar, dan les. Pagi sampai malem rasanya sibuk terus. Kegiatan gak berhenti. Mulai dari pergi ke sekolah, sepulang sekolah harus langsung cus ke tempet les, sempetin ngerjain PR sedikit-sedikit di tempet les, pulang-pulang belajar lagi, dan begitu seterusnya. Rutinitas yang biasa di kalangan anak kelas 12. Hubunganku dengan Tama sudah berlangsung selama 5 bulan, dengan sebulan terakhir yang berat dan penuh emosi. Tapi ternyata itu semua gak berakhir. Baru beberapa hari setelah genap hubungan 5 bulanku dan Tama, seseorang dari masalaluku mencoba menjalin hubungan silaturahmi denganku. Kami hanya saling bertanya kabar dan tidak lebih dari itu. Sebagai pacar yang mencoba lebih terbuka, aku menceritakan hal tersebut ke Tama. Awalnya Tama menerima dan tampak baik-baik saja, tapi tiba-tiba semua berubah. Tiba-tiba dia marah terhadapku. Walaupun dia tidak secara langsung mengutarakannya tapi aku merasakan kemarahannya. Aku merasa bersalah setiap kali membuat hatinya tidak merasa damai. Walaupun alasan kemarahannya adalah takut kehilangan aku, tapi tetap saja aku merasa bersalah. Tapi sungguh, aku hanya ingin berkata jujur. Aku butuh kepercayaan, begitu juga Tama. Entah kenapa, persoalan ini lebih rumit dan lebih menyakitkan dari sebelumnya. Tidak ada kata-kata manis, tidak ada perbuatan manis. Mendadak hubungan kita krisis kepercayaan hanya karena satu sama lain tidak ada yang bisa paham apa itu cemburu. Aku merasa sedih. Tama takut kehilangan aku, padahal kenyataannya aku masih bersamanya. Pada titik lelahku, aku menuliskan ungkapan hatiku di buku diaryku.

“Menjalin hubungan tanpa dipercayai itu menyakitkan. Lalu aku harus bagaimana untuk membuatmu percaya?
Jika suatu saat pendirianmu tergoyahkan sehingga membuatmu tidak padaku lagi, aku akan benar-benar pergi. Aku mundur. Aku tidak memaksamu untuk tetap tinggal bersamaku. Mungkin jika itu terjadi, aku akan menangis. Tapi setelah aku mampu melaluinya, aku akan berpikir:
Kamu bukan yang terbaik dan aku akan mendapatkan yang lebih baik daripada kamu.

Aku mencoba bertahan dengan semua hal yang semakin sulit untuk dijelaskan. Ya kali, masak baru 5 bulan udah main putus aja. Aku mencoba untuk menjalin hubungan yang lebih lama dan mulai mikir untuk menerima kekurangan biar dikit-dikit gak main mutusin. Aku sudah tidak tahan atas ketidakmengertianku tentang definisi kepercayaan dan penerimaan kekurangan. Akhirnya aku memutuskan untuk mengatakannya kepada Tama.

Tama, jangan benci kekuranganku.
Tama jawab, “Walaupun kamu gak minta, pasti sudah aku lakuin. Jangan sedih sama kekuranganmu. Kalau gak ada kekurangan, gak mungkin ada kelebihan. Aku percaya aku akan tetap bahagia dengan kekuranganmu karena aku yakin pasti ada kelebihanmu yang membuatku tetap bertahan. Aku cuma pingin kamu bisa ngertiin aku, pahami aku, dan percayakan semuanya kepadaku.”

Dan aku menjadi lebih tenang. Keraguanku berkurang, sedikit. Sejak kejadian itu, hubungan kita mulai membaik. Benar-benar hubungan anak SMA yang labil. Marahan lalu baikan lalu marahan lagi lalu baikan lagi dan begitu seterusnya. Sekali lagi, aku merindukan dia yang dulu. Yang penuh hal-hal manis. Terus sekarang, kemana semua hal manis itu pergi? Bertepatan 6 bulan hubunganku dengan Tama, tiba-tiba Tama mengirimkan aku pesan singkat yang berisi,

“Kamu ingat kan? mulai dari 6 bulan yang lalu aku pertaruhakn beberapa harapan, impian, dan perasaanku ke kamu? Dan semoga mulai dari 6 bulan yang lalu hingga ke bulan dan tahun berikutnya akan tetap seperti ini. Tidak, tapi akan lebih baik dari ini.
Aku sayang kamu.”

Setelah sekian lama aku tunggu kalimat manis, akhirnya kalimat manis itu datang lagi dan membuatku diabetesku kambuh lagi. Perasaanku melambung lagi. Semua hal yang tidak menyenangkan di masalalu mendadak hilang. Semua jadi menyenangkan lagi dan aku bangga dengan diriku sendiri. Aku bangga karena aku masih bisa bertahan dan telah mengalahkan segala emosiku. Aku bangga karena aku berhasil mengalah terhadap keadaan. Aku bangga karena aku mampu menerima sifatnya dan lebih mengenalnya. Hanya saja, aku belum bisa memahami niat di dalam hatinya. Dibalik rasa banggaku, aku sadar perbedaanku dan Tama, banyak. Sekali.

Tapi beberapa hari kemudian, permasalahan datang lagi. Sekali lagi karena hal yang sama. Ada yang tidak cocok dengan sikap dan sifatku. Sebenarnya aku juga bingung sih apa yang salah dari sikap dan sifatku. Dia hanya bilang kalau aku seperti anak kecil tapi dia tidak memberikan spesifikasi seperti apa sifat dan sikapku yang dia mau. Mungkin aku harus belajar lebih dewasa, berbicara lebih lemah lembut (karena aku cerewet banget dan suka teriak-teriak gak jelas kalau di kelas), bersikap lebih anggun (karena aku suka lari-lari keliling kelas, nyanyi-nyanyi gak jelas, ketawa nglampaui batas, iseng sama temen sendiri…tapi… itu yang dilakukan anak seusiaku sebagian besar, kan?). Berkali-kali aku mengulangi kesalahan yang sama dan berkali-kali juga aku minta maaf. Sejujurnya, mengubah apa yang telah menyatu dalam diriku tidak semudah itu.

Seharusnya aku sibuk belajar buat Ujian Nasional. Tapi setiap ada masalah, belajarku jadi gak konsen. Apa aku harus minta maaf juga ke Bangsa Indonesia karena gak bisa fokus belajar hanya karena masalah hati? Pak Presiden, maafkan generasi bangsamu yang seperti aku ini 😦

Ujian Nasional semakin dekat…

Bersambung.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s