Lima Tahun Part 4 : Perubahan

Kembali ke….. Modern Fairytale Part 4.

Hubunganku dengan Tama sudah memasuki 7 bulan. Setengah tahun yang melelahkan dan membakar kalori. Pantesan aja berat badanku gak naik-naik. Setiap kali tengkar, sehari aku bisa makan cuma sekali. Duh duh duh… segitunya kalau galau. Sama seperti bulan kemarin, bulan ini juga masih ada aja masalah. Yang bikin aku gak habis pikir, masalahnya kalau gak cemburu ya sifatku. Muter aja disitu selama tiga bulan ini. Dan ketika masalah yang sama terulang lagi, aku jadi merasa kalau aku belum bisa memahaminya. Atau, Tama yang belum bisa memahami aku. Labil sudah memang kita berdua ini. Ada satu ungkapan yang keluar gitu aja dari mulut Tama dan bikin aku syok berat. Tama bilang, “Kalau kamu masih pingin sama aku, jangan pernah mengenang maupun mengungkit masalalumu”. Pernyataan ini sulit diterima oleh akalku. Maksutnya apa? Tapi aku tidak betanya lebih lanjut ke Tama. Aku hanya berusaha menerima dan meminta maaf untuk yang kesekian kalinya (saking seringnya aku minta maaf). Sejauh ini aku merasa punya seribu alasan untuk meninggalkannya, tapi gak tau kenapa, aku memilih tetap bertahan hanya karena aku masih merasa manyayanginya. Gila? Iya. Gak logis? Iya.

Aku memilih percaya sama Tama daripada aku menyiksa diriku sendiri dengan banyak statement negatif dari teman-temanku tentang Tama. Aku menutup telinga dari semua orang yang berargumen buruk tentang Tama. Perang batin aku rasakan ketika aku berusaha menepis semua yang terlanjur masuk ke dalam telingaku. Aku harus percaya siapa? Kenyataan yang benar seperti apa? Aku harus bagaimana? Pertanyaan-pertanyaan ini muter-muter dikepalaku. Tapi tidak pernah aku ungkapkan ke siapapun termasuk teman dekatku sendiri. Aku memendam semua pertanyaan yang aku ingin tau sekali jawabannya. Tapi, lama kelamaan aku merasa dadaku sesak dan kepalaku pusing. Aku tidak punya pilihan lain selain menangis, sampai lega.

Gak tau sejak kapan, aku menjadi pribadi yang lebih pendiam. Menjadi pribadi yang susah mengutarakan perasaan. Menjadi pribadi yang lebih senang menyimpan masalahnya sendiri di dalam hati.

By the way, aku mau ceritain dikit tentang temen-temen satu kelasku. Aku punya temen satu kumpulan (geng kalau orang-orang bilang), kita bertujuh cewek semua. Ada aku, Bunga, Levin, Hani, Tiara, Lola, dan Mily (semua nama disamarkan). Kita kemana-mana bertujuh udah dari kelas 11. Dari kita bertujuh yang paling sering galau adalah Mily. Dia emang anak yang paling cerewet diantara kita bertujuh. Paling banyak cerita. Tapi dari semua ceritanya, dia sama sekali tidak pernah menceritakan hatinya. Mily gak seperti temenku yang lain yang dengan gamblang gampang banget bilang lagi suka sama siapa. Sebulan terakhir Mily galau parah. Dia dikelas gak pernah memperhatikan pelajaran. Kerjaannya cuma nulis-nulis kalimat galau di kertas binder. Asli, kalimatnya super galau. Kalau malem juga dia suka ngetweet galau (waktu itu twitter lagi booming). Aku sampek mikir ini Mily kenapa. Sedangkan setiap ditanya dia gak pernah kasih tau siap nama cowok yang bikin Mily galau segitunya. Jahatnya aku, masak aku pernah sempet mikir kalau Mily suka sama Tama cuma karena barang-barang pribadi (laptop dan harddisk) punya Mily sama persis kayak punya Tama. Tapi jahat banget sih aku kalau sampai suudzon sama temen sendiri. Temenku kan gak mungkin gitu sama aku. Cepet-cepet aku ilangin prasangka burukku ke Mily. Setiap kali Mily galau, aku langsung aja nimbrung ikut-ikutan Mily buat bikin tulisan-tulisan galau di kertas binder. Kita sama-sama galau jadi aku ngrasa dari keenam temenku, yang paling paham kegalauanku cuma Mily. Sejak saat itu aku jadi sering main ke kosnya Mily dan aku menjadi sedikit lebih terbuka. Sedikit.

Sekarang sudah memasuki Bulan Desember yang artinya hubunganku dengan Tama sudah 9 bulan. Hubunganku dengan Tama baik-baik saja sejak aku lebih memilih menjadi pribadi yang lebih pendiam. Aku capek, jujur aku capek ketika aku harus tidak seperti aku. Aku menjadi lebih menutup diri dalam pergaulanku dengan teman-teman cowokku. Aku takut ketika aku main sama temen-temen cowokku, Tama marah. Lagian, yang aku tau, Tama juga jarang berinteraksi sama cewek kecuali kalau bener-bener penting. Jadi intinya, aku mencoba melakukan seperti apa yang Tama lakukan. Pikirku, biar hubungan kita fear.

Selama 9 bulan, ada hal yang mengganjal walaupun kami udah jarang bertengkar. Selama 9 bulan, aku tidak pernah tertawa lepas bersama Tama. Aku, merasa aneh. Yang aku rasakan hanya rasa nyaman. Tapi, apakah dalam suatu hubungan nyaman aja cukup?

Aku pikir, hubungan kami bakalan baik-baik aja, ternyata enggak. Akhir tahun yang gak sama sekali aku pahami. Gak ada angin, gak ada hujan, Tama tiba-tiba marah ke aku. Katanya aku terlalu banyak omong kosong. Suer! Aku sama sekali gak paham kenapa dia sampai bisa sejahat itu ngomong sama aku. Aku gak berhenti nangis dengerinnya. Aku gak mau ketemu Tama (untungnya sih waktu itu lagi libur sekolah hahaha). Aku marah atas perlakuannya. Gimana bisa cowok yang awalnya semanis gula tiba-tiba berubah kayak gitu? Aku ingin putus. Selama liburan tahun baru, aku, kacau. Banget.

Bulan Januari, awal tahun yang menghebohkan. Tepat tanggal 7 di tahun 2012, secara resmi aku gak pacaran sama Tama! Waktu itu dia membawaku ke tempat makan yang enak buat ngobrol. Setelah beberapa lama basa-basi sambil ngebahas hal-hal absurd, aku mulai membuka pembicaraan, “Apa yang mau kamu omongin?”. Perasaanku gak enak. Asli gak enak. Emang awalnya aku ngrasa ragu mau ketemuan sama Tama. Terus Tama jawab, “Emm, gini. Bukannya aku apa ya…tapi…”, apaan sih nih kok jadi kagok gini kalo ngomong? Kataku dalam hati. Lalu Tama melanjutkan kalimatnya, “Gini, kita gak pacaran. Emm…bukan putus. Cuma…status kita diganti jangan berpacaran. Emm… gimana ya, pacaran itu malah… aku habis dapet pencerahan kemaren. Pacaran itu bukan suatu hubungan yang dewasa malahan. Kita gak putus. Kita tetep deket ya kayak biasanya…Tapi gak dalam status berpacaran. Kita bikin status sendiri aja deh. Emm…sahabat hidup”. Sejauh, sepanjang, dan selama dia ngomong aku cuma nyengir. Sesekali ketawa garing. Kaget sih iya, feelingku bener. Tapi aku mencoba untuk menjadi cewek yang tetep stay cool. Daripada ntar nangis kelihatan tambah jelek, ya mending nyengir-nyengir kuda aja. Dalam hati aku bilang, “KAMU SERIUS?”. Aku pengen telpon UGD rumah sakit khusus untuk gejolak jiwa labil kayak gini, “Hallo, dari Rumah Sakit Galau ada yang bisa kami bantu?”, “HEEEEELP HELP HELP HELP MEEEEE! CEPET MBAK, SUSTER, DOKTER, PERIKSA JANTUNG SAYA, APA MASIH ADA DENYUTNYA? BU DOKTER PAK DOKTER, APA DARAH SAYA MASIH NGALIR? SIAPA SAYA?! DIMANA INI DIMANA?!! GELAAAAP! LAMPU MANA LAMPU??! API MANA API?!! KEBAKARAAAAAN! SELAMATKAN JIWA KALIAN!!!”, Beginilah kondisi jiwaku waktu itu. Kisruh.

Selang beberapa menit, tetep dalam cengiran kuda dan kediemanku, aku nangis. Tapi nangisku aku tahan-tahan. Tanpa suara lagi. Cuma seluruh badanku getar-getar gitu kayak kesetrum. Keluarlah cairan dari hidung dan dari mata. Yakin, tampangku jelek banget waktu itu. Tapi aku tetep nyengir. “Sinting!”, makiku dalam hati. Tapi sebagai cewek cool (hahaha), aku gak nangis lagi, tegar lagi. Setelah itu aku bukannya sebel atau gimana, aku ngrasa fly. Aku ngarasa gak penuh. Ngomong gak nyambung, ketawa juga sedikit maksa, makan sampai lupa, untung aku gak lupa buat napas juga.

Kondisiku galau berat disaat aku harus mempresentasikan hasil tugas akhir untuk mata pelajaran komputer. Aku bersyukur aku masih bisa handle kondisiku. Diputusin dengan alesan yang gak jelas, setegar-tegarnya aku, sakit itu tetep aja kerasa. Akhirnya aku menumpahkan segala yang aku rasakan dalam tulisanku.

“Aku membatasi rasa sayangku padamu yang bahkan sampai saat inipun masih sama.”

Bersambung.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s