Lima Tahun Part 5 : Berliku

Hmm… Modern Fairytalenya masih berlanjut…

Satu bulan di bulan Januari sangat kacau. Seharusnya aku gak boleh kacau. Ujian Akhir Sekolah sebulan lagi dilaksanakan dan Ujian Akhir Nasional tiga bulan lagi. Sejak aku diputus oleh Tama, aku sangat menghindari dia. Bahkan aku tidak pernah menyapa Tama lagi walaupun kita satu kelas. Setiap Tama ingin memulai percakapan denganku, aku selalu menghindarinya. Setiap jam istirahat aku sering menghabiskan waktu di kelas lain. Yang penting, aku jauh dari Tama. 

Hingga pada suatu hari, Tama ingin berbicara denganku. Tama bilang bahwa dia merasa tidak bisa menjalin hubungan seperti ini denganku. Tama mengajakku untuk memulai semuanya dari awal lagi. Bermodal rasa sayang yang masih tersisa, aku kembali menjalin hubungan pacaran dengan Tama. Aku merasa lega karena beban pikiranku berkurang. Em…gak juga sih. Tapi, setidaknya aku gak segalau satu bulan lalu hehehe. Semua emang serba gak rasional.

Setelah kejadian ini, perasaanku membaik, dan aku bisa konsentrasi menghadapi ujian sekolah, ujian nasional, dan seleksi nasional untuk masuk ke perguruan tinggi. Aku masih belum kepikir ingin masuk universitas mana. Sedikit bayangan saja, aku ingin masuk Universitas Gajahmada, Universitas Airlangga, atau Universitas Brawijaya. Kegiatanku sehari-hari adalah belajar, tryout tiap minggu, les intensive (kebetulan aku mengikuti les di salah satu bimbingan terbaik di kotaku), dan mengerjakan latihan soal setiap hari sebelum tidur. Aku benar-benar tidak memikirkan hubunganku dengan Tama karena kami masing-masing tau bahwa kita harus lulus dengan nilai yang terbaik. Sudah saatnya aku fokus demi masa depanku! (tsah!). Tapi Tama, tidak memikirkan masa depannya sama sekali. Ujian semakin dekat tapi dia semakin banyak main. Tama sudah bukan murid rajin seperti dulu.

Aku dan Tama saling menceritakan cita-cita yang diinginkan masing-masing kami. Tama bilang dia ingin jadi seorang fotografer kelak (ternyata beneran ingin jadi fotografer, kirain cuma pikiran iseng aja). Aku hanya diam saja dan tidak berkomentar apapun tentang cita-cita yang Tama miliki karena mendadak aku baru ingat sekarang tentang percakapanku dengan salah seorang temanku jauh sebelum aku bertemu dengan Tama.

“Kalau kamu punya pasangan, kamu pingin pasanganmu bekerja sebagai apa?”
“Yang jelas aku gak suka punya pasangan fotografer.”
“Kenapa?”
“Aku pasti bakal sering cemburu. Objek fotonya adalah yang baginya menarik. Tidak menutup kemungkinan model-model cantik akan jadi objek fotonya.”

Tapi setelah itu aku tidak memikirkannya lagi. Aku masih belum merasa kawatir karena semua hal yang kami cita-citakan juga belum terjadi.

Sekarang sudah memasuki bulan Maret. Bulan Maret artinya satu tahun hubunganku dengan Tama. Aku senang sekali bisa bertahan selama satu tahun. Tama memberiku satu botol parfum ukuran 150 ml. Parfum itu adalah parfum couple dengan punya Tama. Hubungan kami kembali menjadi indah karena merasa kembali seperti dahulu saat pertama kali kita jadian.

Di bulan Maret juga, sekolah melakukan rolling kelas untuk pengajaran khusus dalam menghadapi Ujian Nasional. Dari kelasku, IPA 1, Aku dan bunga dipindahkan ke kelas unggulan yaitu IPA 2. Kami berkumpul dengan murid-murid yang bahkan ketika jam kosong mereka mengerjakan soal. Aku dan Bunga? Tidur dikelas. Kalau gak gitu ya ke kantin cari makan. Aku gak sekelas lagi sama Tama, tapi itu cuma sementara aja sampai Ujian Nasional.

Gak kerasa udah bulan April. Aku genap berusia 18 tahun. Sekali lagi Tama merayakan ulang tahunku dengan bantuan teman satu kelas. Ketika aku datang pagi hari ke sekolah, aku dikejutkan dengan surprise ulang tahun. Kali ini, di mejaku terdapat kue tart ukuran 20×20 dengan lilin angka 18 diatasnya, beberapa kado, dan balon ulang tahun. Sama seperti ritual ulang tahun pada umumnya, teman-temanku mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku. Aku mengucapkan beberapa harapan sambil meniupkan lilin. Ketika aku lihat kado-kado itu, aku rasa kadonya banyak sekali. Aku hitung ada 5 buah kado. Aku kira itu adalah kado dari sahabat-sahabatku dan Tama. Ternyata, semua kado itu dari Tama.

Kado yang pertama, bentuknya kotak kecil warna merah. Isinya tiga gantungan kunci bintang warna merah, satu gantungan kunci smile warna kuning, hiasan magnet kupu-kupu berwarna merah muda, dan kartu ucapan.Kado kedua adalah album foto warna hitam dengan kumpulan foto-foto kita selama satu tahun yang telah tercetak dan tertempel rapi. Di samping tiap foto, Tama menuliskan tulisan-tulisan manis menggunakan spidol berwarna silver. Kado ketiga yang aku buka isinya adalah dua note diarynote yang pertama bersampul merah dan note yang kedua bersampul coklat yang ketebalannya dua kali lebih tebal dibandingkan dengan note yang bersampul merah. Ada kartu ucapannya juga yang tulisannya, “Aku hanya bisa berikan wadah untukmu menulis. Semoga suatu saat aku dapat membaca semua tulisanmu”. Hmm, manis. Kado keempat yang ukurannya kubus besar sendiri dan ketika aku buka isinya Chocolatos lagi dan sekarang 2 pack. Kado yang terakhir, yang bungkusnya paling bagus dibandingkan dengan yang lainnya. Warna bungkusnya coklat muda dengan hiasan tiga bintang kayu berwarna coklat tua yang ditempet secara vertikal. Rapi sekali. Ketika aku membukanya, isinya adalah baju berwarna putih polos yang sedikit kebesaran di badanku ketika aku coba hehe.

Aku pikir Tama sudah gila dengan memberiku banyak sekali kado dalam satu waktu sekaligus. Terimakasih banyak untuk Tama yang sudah memberikannya kepadaku. Tapi sejujurnya, aku tidak perlu kado sebanyak ini. Tidak perlu memberiku banyak barang untuk membuatku tersenyum, tertawa, atau untuk terus membuatku merasa sayang. Tahun lalu, kata-kata Tama semanis gula. Sekarang, perbuatan Tama kepadaku membuat aku terheran-heran. Dengan segala yang dia berikan kepadaku, semua orang memandangku sebagai gadis yang lucky. Cerita tentang aku dan Tama tersebar hingga kesetiap sudut sekolah. Semua teman-temanku mulai dari kelas IPA hingga kelas IPS selalu menyanjung hubunganku dengan Tama. Tapi aku merasa aneh, wajahku tertawa dan tersenyum dengan sanjungan mereka. Tetapi hatiku tidak. Orang-orang kan tidak ikut menjalani. Mereka hanya melihat dari luar. Yang sebenarnya tidak seindah itu.

“She’s so lucky, she’s a star
But she cry, cry, cries in her lonely heart, thinking
If there’s nothing missing in my life
Then why do these tears come at night?” (Britney Spears – Lucky)

Seminggu sebelum ujian nasional, hubungan kami kembali ditimpa masalah. Masalah kali ini karena aku terlalu menyalahkan apa yang Tama lakukan. Karena dimataku, apa yang menurutku kurang baik harus aku bilangi. Tapi sekali lagi, aku yang salah. Aku menyalahkan Tama tanpa aku melihat bagaimana diriku. Terjadilah percek-cokan panjang lagi diantara kami. Aku kehilangan selera untuk belajar. Sedangkan ujian nasional sudah di depan mata. Aku  marah terhadap diriku sendiri mengapa aku bisa seegois ini dalam menjalin hubungan. Aku merasa apa yang telah aku katakan pada Tama adalah sesuatu yang melukai hatinya.

Ujian Nasional tinggal seminggu lagi. Seminggu lagi. Dan aku galau. Siapa yang sinting disini? Tama, maaf.

“Maafkan kata yang tlah terucap
Akan kuhapus jika ku mampu
Andai kudapat meyakinkanmu
Kuhapus hitamku, untukmu” (Andra&TheBackBone – Hitamku)

Bersambung.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s