Lima Tahun Part 6 : Dipahami-Memahami

Aku tidak pernah mengerti mengapa bahkan ketika hubungan kami sudah mencapai satu tahun tapi kami masih tidak bisa memahami satu sama lain, tidak ada kepercayaan, selalu punya pikiran takut ditinggalkan, selalu saling menyalahkan, dan selalu memperbesar masalah kecil. Jika ditanya bagaimana hatiku? Lelah, jelas. Tapi rasa ingin memiliki dan menyayangi masih ada sejauh ini. Aku tetep kekeh berusaha untuk terus menjalani. Entah semua ini salah, atau benar. Pikirku, jika ini salah, semua masih bisa dibenarkan kan seiring berjalannya waktu? Oke, mungkin aku terlalu keras kepala.

H-1 UN, Aku bertemu dengan Tama sebelum aku mengikuti les tambahan untuk UN Bahasa Indonesia. Kami ketemu di depan tempat lesku sambil kami duduk-duduk di bawah pohon. Gak banyak percakapan yang kami bicarakan. Aku sama Tama sering sih kayak gitu. Setiap ketemu, banyak diemnya. Aku gak paham juga kenapa bisa kayak gitu padahal sejujurnya, aku orangnya cerewet banget dan suka cerita. Waktu ketemu, Tama tiba-tiba ngeluarin kresek warna kuning dan dikasihnya kresek itu ke aku. Waktu aku lihat, ternyata itu kaos. Kaos lengan panjang warna hijau telur puyuh dan ada gambar origaminya di depan. Aku emang suka bikin origami sih, tapi itu sudah satu tahun yang lalu. Sebenernya nerima baju ini, rasanya agak berat. Dikasih-kasih sesering ini bikin gak nyaman. Tapi udah terlanjur dikasih, apalagi Tama bilang kalau baju ini couple sama punya dia. Sejujurnya, aku gak tau harus balesnya kayak gimana. Sebelum kita akhirnya pisah, Tama bilang, “Ka, maaf dan terimakasih“. Aku hanya tersenyum. Setidaknya UN gak ada pikiran.

Hari ini UN diselenggarakan serentak diseluruh Indonesia.

Setelah UN diselenggarakan, minggu depannya aku dan teman-teman IPA1 pergi ke Pantai Goa Cina. Nyenengin banget bisa jalan-jalan lagi sama temen yang udah bareng-bareng satu kelas sejak dua tahun yang lalu. Hari-hari berlalu sangat cepat dan menyenangkan dan tinggal menunggu pengumuman kelulusan. Sambil nunggu hasil kelulusan, aku mulai mencari informasi-informasi tentang pendidikanku selanjutnya. Aku ditemani Tama mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang perguruan tinggi yang nantinya akan aku pilih.

Bulan April pun berlalu. Bulan Mei adalah bulan kerja keras karena aku harus semakin rajin belajar supaya bisa lolos ujian tulis masuk perguruan tinggi negeri. Aku setiap hari menjalankan intensive SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) di lembaga bimbingan belajarku dengan menyelesaikan soal-soal latihan setebal kurang lebih 500 halaman. Aku fokus pada belajarku sehingga aku tidak memperdulikan pertengkaran-pertengkaran kecil yang terjadi antara aku dengan Tama.

Aku telah dinyatakan lulus. Dengan demikian masa memakai putih abu-abuku telah benar-benar selesai. Pada bulan Juni, tes ujian tulis masuk perguruan tinggi diselenggarakan selama dua hari. Setelah menjalankan tes, beberapa hari setelah itu aku diwisuda.

Satu bulan penantian hasil tes masuk universitas akhirnya berakhir. Aku dinyatakan lulus masuk salah satu Universitas Negeri di Malang. Aku senang karena aku lulus ujian masuk perguruan tinggi. Tama dan aku merayakan hari kelulusanku dengan makan enak lalu kita lanjut karaokean. Ditengah-tengah aku bernyanyi, tiba-tiba Tama menatapku serius. Dia menggenggam tanganku. Aku terdiam melihat perlakuannya yang mendadak berubah kepadaku. Dia mengeluarkan handphone dari sakunya.

“Aku mau kasih tau kamu sesuatu, ini tentang Milly.”
“Apa?”
“Kamu jangan marah ke dia tapi ya.”
“Apa? Kenapa? Lihat hp-mu cepet.”
“Sabar sabar…”

Deg. Perasaanku gak enak. Lalu Tama memberikan handphone-nya kepadaku. Aku membaca pesan yang tertera di layar. Pesan itu dari Milly.

Tama, sekarang kamu sudah tau semuanya. Iya, semua tulisan yang kamu baca di laptopku, semua kegalauanku, itu karena kamu. Aku sadar kalau aku pagar makan tanaman ke Ika. Tapi aku gak peduli. Aku harus ngomong ke kamu kalau selama ini aku suka sama kamu.

Pesan itu masih panjang, tapi aku gak bisa membacanya lebih lanjut. Penglihatanku memburam. Hatiku terasa sakit. Banyak pertanyaan yang mendadak muncul di kepalaku. Air mataku mencair dan aku mulai terisak. Aku sulit menerima kenyataan ini. Bagaimana bisa Milly… Kenapa harus Milly? Kenapa harus sahabatku sendiri? Aku tau bagaimana kegalauan Milly selama ini. Aku tau banyak tulisan patah hati yang dia buat sewaktu pelajaran di sekolah dulu. Aku tidak menyangka kalau aku bisa suka dengan orang yang sama dengan Milly. Aku bingung. Aku marah, entah kepada siapa. Aku kaget. Aku tidak bisa menerima kenyataan.

Tama kita putus aja! Aku gak bisa terusin hubungan kita! Aku gak bisa kayak gini sama Milly! Kenapa? Kenapa feelingku tentang Milly benar! Aku benci. Aku mau putus aja dari kamu. Kamu apain Milly sampai dia bisa suka sama kamu?!“. Aku menangis sejadi-jadinya. Dadaku semakin terasa sesak. Aku kepikiran Milly. Aku gak tau harus berbuat seperti apa terhadap Tama, juga terhadap Milly. Pikiranku kalut.

Kita gak putus. Aku gak mau putus. Aku memilih kamu, bukan Milly. Apa yang kamu pikirkan lagi?“. Aku gak tau harus percaya apa enggak sama Tama. Aku gak tau apa keputusan yang seharusnya aku ambil. Aku gak tau aku harus berbuat apa. Aku cuma bisa terus nangis dan akhirnya Tama memelukku. Aku berusaha melepaskan pelukannya. Tapi Tama memelukku sangat kuat. Aku memilih pasrah dalam pelukannya. Untuk sementara, jujur, aku ingin sendiri… Aku tidak butuh siapapun…

Aku pulang dengan perasaan dan pikiran yang kacau. Semua tentang Milly. Sesampainya di rumah, aku kembali menangis di dalam kamar. Aku butuh mampu menerima kenyataan. Aku stress memikirkan sahabatku sendiri. Malam itu, aku memutuskan untuk memberitahu Milly bahwa aku telah mengetahui tentang perasaannya untuk Tama. Dalam pesan singkat itu, tampaknya aku dan Milly telah baik-baik saja. Tapi kenyataan berkata lain ketika aku bertemu dengannya. Kami hanya saling tatap kemudian saling memalingkan muka. Kami sama sekali tidak berbicara apapun. Aku tidak ada keinginan untuk menyapanya, juga dia. Sejak saat itu kami tidak pernah saling menyapa. Di dunia nyata, maupun dunia maya. Kami semakin jauh ketika Milly diterima di salah satu Universitas Negeri di Kota Surabaya.

Aku kira Milly dan aku hanya saling berjauhan. Ternyata tidak. Aku dan Milly bermusuhan. Ketika suatu hari aku buka grup IPA1 di facebook dan aku melihat postingan Milly.

Silahkan kamu mencintainya. Aku tidak akan menghalanginya. Kelak kamu akan jauh lebih mencintaiku.

Jelas, postingan itu untuk Tama. Membacanya membuat hatiku sakit. Kini, aku dan Milly adalah saingan. Aku menangisi persahabatan yang dulu, kini menjadi kebencian antara kami. Aku bersikukuh mempertahankan Tama dan membuang Milly dari hidupku. Begitu juga Milly. Berusaha membuangku jauh-jauh dan tetap pada perasaannya. Aku sadar, aku telah kehilangan Milly.

Masalah ini membuat aku sensitif juga terhadap Tama. Aku menjadi lebih posesif. Aku sayang Tama. Disetiap aku tuliskan isi hatiku, pasti ada namanya. Ambisius, keegoisanku, dan cara-cara lainku untuk mencintainya semua jelas. Tapi semua itu tidak membuatnya benar-benar percaya bahwa aku menyayanginya. Mungkin karena aku sering bertindak bodoh dan salah. Mungkin aku belum bisa mengutarakan perasaan dengan cara yang benar.

Masalah ini, membuat aku harus terbaring berhari-hari karena sakit.

Bersambung.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s