Lima Tahun Part 7 : Kebiasaan

Aku menguatkan mental dan hatiku untuk dapat menerima kenyataan. Tidak ada yang bisa membuatku menjadi kuat kecuali mampu menerima semuanya. Memang tidak mudah, tapi aku mempu melaluinya. Aku mempererat hubunganku dengan Tama agar segala kekawatiran bahwa dia akan pergi dariku semakin tipis.

Aku ada di masa libur panjang antara kelulusan SMA dan hari pertama perkuliahan. Hampir setiap hari aku habiskan waktuku dengan Tama. Suatu hari kita pergi ke tempat jadian kita beberapa tahun yang lalu. Suasana sudah banyak berubah. Bukit Paralayang kini semakin ramai. Kami menikmati pemandangan kota Batu dari atas bukit. Hawa dingin merasuk kedalam kulit kami walaupun kami sudah menggunakan jaket. Seperti biasa, tidak banyak obrolan. Tiba-tiba dia menggenggam tanganku saat kami sedang asyik duduk berdua menikmati pemandangan dari atas bukit. Tama menyematkan cincin di jari manis kiriku.

Semoga nanti aku bisa ngasih cincin beneran dan letaknya di jari manis kanan.

Apa aku gak salah denger? Ini berkaitan sama… Pernikahan. Hal yang sebelumnya tidak pernah terlintas di kepalaku. Aku senyum-senyum sendiri membayangkan kita akan menikah. Cerita ini akan menjadi happy ending paling hebat.

Keesokan harinya, dia jemput aku dengan menggunakan motor gunung pagi-pagi banget.

“Kita mau kemana? Kok bawanya motor gunung?”
“Ke Bromo.”
“Bohooooong~”

Aku senyum-senyum sambil naik jok belakang. Dia memberiku masker dan menyuruhku membawakan tas ranselnya. Aku cuma bawa badan aja. Dan ternyataaaa perjalanan kami beneran ke Bromo. Sepanjang perjalanan aku serba gak percaya. Ternyata apa yang Tama ucapkan kepadaku beneran. Aku seneng banget. Kami memutuskan untuk pergi ke kawahnya. Kami tidak belok ke penanjakan karena sebelumnya kami dan teman-teman sekelas udah kesana. Perjalanan yang capek tapi bukan perjalanan yang nakutin. Gunung Bromo sudah menjadi objek wisata. Fasilitas-fasilitas vital bisa dijangkau. Untuk melihat kawah, kami hanya perlu menaiki anak tangga yang banyak sekali. Sepanjang perjalanan, kami banyak mengambil foto bersama. Mengabadikan moment bersama adalah hal yang sering kita lakukan jika keluar bersama seperti ini. Perjalanan kami memang singkat karena kami juga gak nginep di Bromo. Tapi aku seneng banget sama surprise yang Tama berikan ke aku.

Hubungan kita lagi berbunga-berbunganya. Lagi baik-baiknya. Dan gak sengaja aku tanya aja ke Tama kenapa kok dia pinter banget meluluhkan hatiku dan bikin aku mampu bertahan sejauh ini.

Aku kasih tau rahasia sepikanku ya. Sepik itu berawal dari hati yang gak bisa bicara, tapi hati itu ingin mengungkapakkan apa yang ia rasakan. Jadi hati itu menyuruh mulutku untuk mengatakan apa yang ia rasakan. Sebelumnya, dia berkonsultasi dulu dengan otak kananku agar bisa membuat kata-kata yang tepat dan kemudian mendiskusikan dengan otak kiri untuk menghitung timing yang pas. Akhirnya terucaplah sepikan itu dan itu nyata dari hatiku.

Tiga hari setelah itu, memasuki Bulan Ramadhan. Puasa satu bulan, keluar dengan Tama hanya ketika perlu untuk berbuka bersama saja. Selebihnya, kita fokus pada ibadah puasa kita masing-masing.

Bulan Ramadhan telah selesai. Lebaran juga sudah lewat. Sekitar dua minggu lagi aku sudah masuk kuliah. Selama masa liburan yang tinggal dua minggu itu, aku gunakan untuk full main sama Tama. Aku memang memprioritaskan Tama. Mungkin ini karena dua bulan lagi kami akan menjalani hubungan jarak jauh. Tama akan menjalani sekolah khusus selama… aku tidak tau berapa lama. Aku mengesampingkan teman-temanku, bahkan mengesampingkan tugas ospekku. Walaupun aku kesampingkan, aku tetap bisa memanajemen waktu dan tenagaku dengan baik. Sekali dua kali aku bermain dengan beberapa temanku. Dan aku mendedikasikan waktu sebentar dengan full konsentrasi agar tugas ospek bisa selesai hanya dalam waktu singkat.

Hari pertama masuk kuliah, aku clingak-clinguk mencari kelas dan kebetulan banget ditengah jalan pencarian kelas, aku ketemu sama cewek berkerudung yang bernama Dina. Setelah basa-basi kenalan, ternyata dia satu kelas denganku. Kami bersama-sama mencari ruang kelas yang sesuai dengan jadwal. Dan ketika kami menemukannya, aku agak kaget sih sebenernya sama suasana kelasnya. Kenapa ceweknya dikiiiiiit? Kalau aku hitung ceweknya gak sampai 15 sedangkan cowoknya udah 30an orang. Aku tidak terbiasa dengan kondisi ini. Aku merasa aneh dengan teman cowok yang banyak. Selama ini, temen cowokku seakan cuma Tama dan cowok-cowok di kelas IPA1. Aku bisa dibilang… kuper? atau… introvert? Ya terserah saja tapi memang seperti itu keadaanku.

Aku cerita ke Tama mengenai teman sekelasku yang lebih banyak cowoknya daripada ceweknya. Lalu Tama bilang ke aku, “Jaga kepercayaanku ya. Jangan main-main dengan hubungan yang kita jalani“. Aku hanya menelan ludah mendengar kata-kata Tama. Dari kalimat itu, yang aku rasakan adalah pertama, dia belum sepenuhnya percaya kepadaku. Kedua, dia takut kehilangan aku. Ketiga, dia takut aku selingkuh dan menyukai lelaki lain. Tanpa Tama bicara secara detail, aku sudah memahami semuanya hanya dengan dua kalimat singkat. Lagian, aku niat kuliah ya kuliah kok, bukan buat cari cowok lain atau cari jodoh. Karena aku akan berusaha terus menjalani hubungan dengan Tama. Sayang sama waktu yang sudah lama aku habiskan dengan Tama. Sayang sama komitmen yang udah dibuat. Sayang sama kenangan. Yang paling penting, sayang sama janji diri sendiri kalau bakal setia sama Tama. Gak cuma cowok sih yang kata-katanya harus bisa dipegang, cewek juga kan?

Tama mulai mengisi waktu luang dengan belajar fotografi lebih dalam. Dia benar-benar ingin menjadi fotografer. Beberapa hari belakangan dia juga sibuk dan kami cuma bisa sms-an jarang-jarang. Palingan kita berkomunikasi cuma pagi hari, malem hari, dan siang hari kalau kita mau ketemuan atau keluar bareng. Apa salah ya kalau aku tetap memprioritaskan Tama ditengah tugas kuliah yang mengagetkan dan mulai banyak ini sedangkan Tama lebih memilih hobi barunya daripada aku? Mau cuek, aku gak bisa.

Suatu hari, Tama pamit sama aku katanya mau ngikutin kontes fotografi di salah satu mall di kota kami. Karena aku penasaran kontes fotografi yang dia ikuti sekalian mau ngasih surprise ke dia kalau aku hadir, aku pergi ke mall tersebut. Taraaa! Aku kaget. Aku tidak menemukan Tama dimanapun. Yang aku lihat hanya banyak sekali mobil keren dan motor gede plus cewek-cewek seksi yang asik berpose di kendaraan yang dipajang. Ternyata seperti ini kontes fotografi. Cewek seksi dengan baju minim, hells sepuluh senti, dan lipstik warna merah menjadi objek fotografinya. Jadi, inikah yang bagi Tama menarik? Bagiku ini memuakkan. Hingga akhirnya aku marah ke Tama dan Tama berusaha memberi penjelasan kepadaku.

“Kalau aku menang, uangnya bisa buat kita main”
“Kamu bisa cari uang dengan cara lain kan? Gak dengan cara bikin aku muak kayak gini!”
“Lagian aku gak pegang-pegang ceweknya, aku cuma motret, Sayang..”
“Kalau gitu bolehin aku ikut agency model”
“Jangan, aku gak mau kamu difoto sama orang lain”
“Egois kamu!”

Tama, kamu terlalu banyak alasan…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s