Lima Tahun Part 8 : Perpisahan

Masalah insiden cemburuku terhadap model seksi (oke aku cemburu mungkin karena aku gak berpenampilan seksi sih), berakhir. Akhirnya aku baikan sama Tama walaupun aku sudh mulai merasa was-was dengan hobi barunya. Aku jadi membayangkan gimana kalau hal ini bukan jadi sekedar hobi tapi menjadi pekerjaan tetapnya? Aku gak rela. Tapi, apa benar Tama serius dengan bidang yang dia geluti? Please, aku gak bisa bayangin…

Hari ini hari ulang tahun Tama. Aku mengucapkan selamat ulang tahun dengan menuliskan surat untuknya di blog, twitter, serta mengirimkannya pesan singkat. Beberapa hadiah juga aku berikan kepadanya. Moment ini bagiku sebagai ajang balas budi dengan apa yang telah Tama berikan kepadaku selama ini. Ya, itu yang aku pikirkan.

Seringnya intensitas bertemu dengan Tama, dengan perasaanku yang terbilang masih labil, aku mulai tidak mandiri. Semua-semua Tama. Aku bisa memutus komunikasi dengan banyak orang jika sedang bersama Tama. Hampir setiap hari kita bertemu dan waktu menuju hubungan jarak jauh semakin dekat. Aku mulai kecanduan dengan keberadaan Tama di dekatku. Aku mulai egois dengan tidak menginginkan adanya perempuan lain yang menyukai Tama, selain aku. Posesif? Bisa dibilang begitu. Semakin lama aku semakin tergantung dengan Tama. Kemana-mana Tama yang selalu jemput dan anter aku. Bahkan saat aku pulang dari Krida Mahasiswa yang diadakan oleh fakultasku, Tama setia menjemputku bahkan mengajakku jalan-jalan untuk melepas penat. Setiap aku pusing dengan tugas, aku lari ke Tama. Isi inboxku, Tama. Daftar panggilan telpon, Tama. Orang yang aku hubungi sebelum aku tidur, Tama. Orang yang selalu aku tunggu kabarnya, Tama. Aku semakin tersesat dengan perasanku sendiri. Aku rasa aku telah salah meletakkan perasaanku, tapi aku seakan tidak peduli dengan hal itu.

Sabtu, Minggu, Senin aku habiskan waktu dengan Tama mulai dari pergi ke Paralayang, pergi nonton, pergi keliling kota, sampai pergi ke Jawa Timur Park. Hampir semua tempat di kota kami telah aku datangi dengan Tama. Mulai dari tempat yang mahal sampai tempat yang murah. Mulai dari tempat yang terkenal sampai tempat yang biasa-biasa saja.

Pada awal hubungan kami, bisa dibilang kami sering sekali bertengkar. Percaya atau tidak, setelah mampu bertahan, kami bisa saling mengerti satu sama lain dan mulai hafal kepribadian satu sama lain. Kami banyak menghabiskan waktu bersama dengan intensitas pertengkaran yang semakin menipis. Aku merasa, tahun bahagia telah dimulai. Aku semakin senang ketika Tama membawaku ke rumahnya dan bertemu dengan keluarganya. Ini bukan yang pertama kalinya, tapi hal ini membuat hubunganku dengan Tama dan keluarganya semakin lama semakin baik. Terlebih Tama selalu dengan tiba-tiba membicarakan soal pernikahan (padahal umur kami saat ini masih 18 Tahun). Hmm, aku selalu luluh setiap kali Tama membicarakan pernikahan kami. Tama selalu bilang, “Aku berusaha untuk itu“.

Hari ini, 23 Oktober 2012. Tama ke rumah ku untuk menitipkan barang-barang pribadinya kepadaku. Aku bertugas untuk menjaga barang-barang pribadi Tama seperti handphone, laptop, dan kamera selama dia pergi. Selama Tama pergi, kemungkinan kami untuk menjalin komunikasi sangat kecil karena aturan ketat yang ada di sekolah tempat Tama melanjutkan pendidikannya. Aku tidak bisa berpisah dengan Tama. Pertemuan kita yang terlalu intens beberapa bulan ini sukses membuatku sangat sangat bergantung dengan Tama. Malam harinya aku telponan dengan Tama setelah sekian lama kami tidak pernah lagi saling telpon. Hingga kami tanpa sadar sama-sama tertidur. Keesokan harinya, Tama benar-benar berangkat. Dengan menggunakan nomor milik orang tuanya, Tama mengirimkan pesan singkat kepadaku.

Ini sms terakhirku untuk saat ini. Kamu baik-baik ya..

Aku menangis sejadi-jadinya. Rasanya sesak ketika selama ini aku terbiasa menghabiskan waktu dengannya dan secara tiba-tiba dia pergi dari kebiasaanku. Menyisakan kenangan dan janji untuk bertemu lagi yang entah kapan akan terjadi.

Sore hari pertama, tanpamu…
Aku pasrah pada perpisahan kita. Dengan harapan bahwa semua ini sementara. Kamu benar, Tama. Bahwa hal yang pasti di dunia ini adalah ketidakpastian. Aku tidak pernah tau kapan aku akan bertemu denganmu lagi. Sebulan, dua bulan, tiga bulan… atau satu tahun lagi? Aku tidak tau. Aku memilih pasrah. Pasrah atas semuanya. Aku pasrah, entah kepada siapa hati ini akan berlabuh. Aku pasrah tentang apapun yang telah Tuhan takdirkan kepada kita.
Cinta sejati, sejauh apapun dia pergi, pasti akan kembali. Entah dikehidupan ini, maupun kehidupan selanjutnya.

Bersambung.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s