Untuk Ibu

Dear My Eternal Love,

Bu, aku telah tumbuh menjadi gadis dewasa setiap harinya. Bertahun-tahun tanpamu bukanlah hal yang mudah untuk aku lalui. Setiap doa aku panjatkan untuk keselamatanmu. Sesekali waktu, ingin rasanya aku bertemu denganmu.

Aku ingin menceritakan banyak hal dan berbagi denganmu. Tapi rasanya itu tidak mungkin. Karena itu aku buat surat ini sebagai sarana bercerita denganmu selain melalui doa. Bu, aku ingin bertanya mengapa dulu Ibu memilih pria (yang sekarang telah menjadi ayahku) untuk menjadi suamimu? Apa yang membuat Ibu tertarik untuk menerima lamarannya? Ibu tidak perlu menjawabnya sekarang, Ibu bisa menjawabnya nanti saat kita bertemu. Entah dimana, entah kapan. Bu, semakin dewasa aku semakin tau apa tujuanku dan apa yang aku cari. Bisa dibilang salah satunya adalah sesosok imam untuk diriku sendiri. Dulu, aku menginginkan pria seperti priamu untuk menjadi pendamping hidupku. Tapi entah mengapa sekarang tidak lagi. Aku akhirnya sadar bahwa tipikal pria kita berbeda, Bu. Bagiku, priamu adalah pelindungku. Aku mencintainya sebagai seorang ayah. Bukan sepertimu yang mencintainya sebagai seorang belahan jiwa. 

Bu, aku rasa aku telah tumbuh menjadi seperti dirimu. Walaupun aku menjadi sarana percobaan kehidupan yang dilakukan oleh priamu, tapi aku berusaha berfikir bahwa itu semua dilakukan demi kebaikanku. Priamu selalu mengambil andil dalam penentuan hidupku sendiri. Seandainya ada Ibu, mungkin Ibu bisa lebih membela aku. Tapi, sebentar lagi semua itu akan selesai, Bu. Setelah aku lulus dari kuliahku, sepenuhnya hidupku adalah pilihanku sendiri. Aku ingin lepas sepenuhnya dari priamu. Benar jika aku sangat dicintai oleh priamu, mungkin salah satu alasan selain aku adalah darah dagingnya, aku adalah cerminan dirimu tanpa aku sadari.

Bu, dimanapun Ibu berada, restui satu kali ini saja untuk pertaruhan seluruh hidupku. Restuilah pria yang kelak aku pilih untuk menjadi belahan jiwaku dan aku menjadi belahan jiwanya. Maafkan aku jika aku tidak memilih pria seperti priamu. Walaupun aku merasa bahwa aku sama denganmu, tapi aku tetaplah aku dan Ibu tetaplah Ibu. Priamu tetaplah priamu, dan priaku tetaplah priaku. 

Selama aku hidup, bagiku Ibu adalah bidadari yang tidak pernah dapat digantikan oleh wanita manapun di dunia ini.

Your Eternal Love, putrimu.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s