Lima Tahun Part 10 : Dijujurin

Sekarang sudah sampai pada penghujung tahun 2012. Lagi banyak-banyaknya tugas kuliah karena bulan depan sudah Ujian Akhir Semester. Satu semester yang bikin capek karena aku masih belum terbiasa dengan sistem di perkuliahan. Ya tapi setiap awal yang susah menurutku hanya karena gak terbiasa aja. Lama-lama kalau terbiasa, hal yang susah itu juga bakal jadi gampang. Ya semoga itu juga berlaku buat long distance relationship

Setelah sekian lama, akhirnya Tama menghubungiku.

“Tamaaaaaaa lama kamu gak hubungi aku.”
“Iya, maaf baru sempet. Kamu apa kabar? Gimana kuliahnya?”
“Kabarku baik dan aku habis ini UAS. Doain aku yaa”
“Iya, selalu.”
“Eh Tama, aku mau tanya dong. Apa kita sepantas itu buat barengan?”
“Pantas! Bagiku tapi. Buat pandangan orang lain, itu masalah mereka.”
“Kalau kamu ditanyain orang ‘apa kamu suka dia?’, terus kamu jawab ‘iya suka’, terus dia nanyain lagi ‘apa emang sesuka itu?’, kamu bakal jawab apa?”
“Aku bakal jawab pertanyaan kedua dengan jawaban yang sama. Karena hakikatnya, pertanyaan kedua hanyalah pengulangan dari pertanyaan pertama. Itu cuma pertanyaan yang akan membuat ragu seseorang dengan jawaban pertamanya. Padahal itu adalah dua pertanyaan yang sama dan aku akan jawab ‘iya, sesuka itu!'”

Aku gak tau harus berbicara apa, tapi apapun yang dinalarkan Tama memang benar. Aku senang Tama meyakinkanku atas perasaannya. Aku senyum-senyum mendengarnya.

“Sayang itu menurutmu apa, Tama?”
“Sayang itu adalah rasa lebih. Lebih segalanya dari orang yang tidak disayangi.”
“Hmm, yang paling sakit dari menyayangi menurutmu apa?”
“Menurutku, bukan karena orang yang kita sayangi tidak menyayangi kita, tapi saat orang yang sudah bilang menyayangi kita dan kita juga menyayanginya, tapi itu cuma ucapannya aja. Tindakan, perilaku, dan hatinya tidak.”
“Apa bedanya suka sama sayang?”
“Sayang sudah pasti suka. Suka belum tentu sayang.”
“Kamu takut kehilangan orang yang disayangi, Tama?”
“Aku? Jelas takutlah. Tapi manusia itu bisanya berusaha dan berdoa. Apapun keputusan Tuhan, kalau takdirnya lain ya harus ikhlas. Kita harus yakin kalau Tuhan bakal kasih surprise lain buat kita.”
“Menurut pengalamanmu, pernah gak melupakan dengan cara berusaha atau tanpa sadar telah melupakan?”
“Pernah dua-dunya kok…”
“Percaya sama orang yang bilang ‘kamu satu-satunya dimataku’ atau ‘aku hanya melihatmu’?”
“Nggak lah! Hahaha memang dunia ini isinya aku sama kamu tok? Nggak kan.”

Gak tau kenapa aku mengeluarkan pertanyaan yang bobotnya berat setelah sekian lama aku tidak pernah mempertanyakan hal sedemikian kepada Tama. Saat Tama menjawab, aku hanya mendengarkan. Aku sama sekali tidak menyangah apapun jawaban yang dia berikan padaku. Dan tidak lama setelah itu, aku mengakhiri telepon.

UAS telah berakhir. IP pertamaku sudah muncul. Jadwal semester dua juga sudah ada. Full dari siang sampai sore selama lima hari aktif. Hari liburku hanya Sabtu dan Minggu dan aku tidak yakin apakah Sabtu dan Minggu akan benar-benar libur. Sibuk? Gak masalah. Toh Tama gak lagi ada disini. Tidak ada yang perlu diprioritaskan.

Liburan semester ganjil yang tergolong singkat ini, aku gunakan untuk main sama temen-temen SMA ku sekalian sharing sama pengalaman-pengalaman kuliah mereka. Selain itu, juga ada beberapa kejadian menarik. Selama kami menjalin LDR, handphone Tama aku bawa untuk terus mengaktifkan nomornya, maklum, nomornya mengandung hari jadi kami. Sehingga Tama selalu ingin nomor itu aktif terus. Ketika aku mengecek handphonenya ada SMS masuk. Aku kira dari operator, ternyata tidak. SMS yang masuk dari Jenny. Setauku, Jenny adalah salah satu perempuan yang pernah ditinggal pergi sama Tama setelah beberapa bulan menjalin hubungan tanpa status. Singkat cerita yang aku dengar, Jenny sampai nangis-nangis karena Tama dan tidak bisa melupakan bahkan sampai saat ini. Aku mendengar banyak kabar yang bilang kalau Tama adalah bad boy. Ya, aku tau hal itu tentunya. Tapi siapa yang tau, bisa saja ketika bersamaku, Tama menjadi lebih baik dan semakin baik lagi.

Ada lagi kejadian tidak masuk akal yang gak tau perlu atau gak buat aku ceritain ke Tama. Jadi waktu aku main ke kampus, aku ketemu sama temen sekelasku semester satu dulu yang cuma semingguan sekelas kemudian dia pindah study. Namanya Ary. Kami sempat bertegur sapa dan basa basi sedikit. Dan malamnya Ary mengirimi aku pesan yang isinya mengungkapkan perasaannya bahwa sejak pertama mengenal aku hingga sekarang, dia suka sama aku. Aku rasa ini semua gak masuk akal karena kami sejujurnya hanya kenal selama satu minggu dan tak lebih dari teman satu kelas biasa.

Hari berlalu semakin dengan kejadian-kejadian yang aneh. Mungkin aku tidak terbiasa bersosialisasi dengan lingkungan yang lebih luas daripada lingkungan sekolah. Malam ini adalah malam inagurasi. Penutupan krida mahasiswa. Semua mahasiswa baru yang telah mengikuti krida mahasiswa diwajibkan untuk hadir. Sebenernya, aku tidak berselera mengikuti inagurasi. Tapi temenku tiba-tiba datang menjemput jadi mau tidak mau, aku ikut. Aku menikmati acaranya sampai akhirnya aku tidak dapat menikmati acaranya karena sedikit hujan. Hujan menimbulkan cuaca yang dingin. Dan cuaca yang dingin membuatku lapar. Aku udah gak bisa nahan lapar sedangkan beli cemilan tidak banyak membantu. Waktu menunjukkan pukul 9 malam. Aku dan temanku memutuskan untuk memaksa pulang walaupun ketentuan bagi kami mahasiswa baru, baru boleh pulang pukul 10 malam. Aku dan temanku tidak peduli dengan ketentuan itu. Kami akhirnya berhasil pulang walaupun kakak panitia sedikit sulit dirayu dan harus merelakan KTM kami disita.

Keesokan harinya setelah inagurasi, diadakan malam keakraban. Malam keakraban didatangi oleh seluruh mahasiswa di fakultasku. Aku? Tidak ikut. Aku tidak tertarik. Aku rasa aku sudah cukup main sampek malem kemaren. Rasa tidak enak selalu mengejarku mengingat aku tau bahwa Tama pasti akan marah jika aku terlalu bersenang-senang hingga larut malam. Aku tidak ingin berbohong kepada Tama lebih banyak lagi jadi aku meminimalkan semua kegiatanku agar aku hanya melakukan hal yang “enak buat dijujurin” ke Tama.

Tahun ini sudah memasuki bulan ketiga. Itu artinya hubunganku dengan Tama sudah dua tahun. Perubahan dalam diriku selama dua tahun ini terlihat jelas. Aku menjadi pribadi yang lebih introvert, menye, dan manja. Sebelum kenal Tama, aku suka film horror, suka film action, suka olahraga (bahkan yang menguras tenaga kayak basket), gak suka pake rok, gak pernah nangis, suka emosi, bahkan sempet ngefans sama a7. Dan setelah ketemu Tama, aku berubah hampir 180 derajat.

Emang bisa ya kepribadianku bener-bener berubah kayak gitu? Apa aku sudah benar-benar meninggalkan aku yang sebenarnya?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s