Lima Tahun Part 11 : Ketemu

“Aku tidak akan membunuh waktu. Karena itu satu-satunya hal yang mampu mempertemukan kita kembali”

Aku menikmati masa-masa menunggu Tama. Sisi positif dari tidak bertemu dan berkomunikasi lama dengan Tama, aku bisa lebih fokus terhadap diriku sendiri. Aku bisa lebih memberikan waktu untuk teman-teman dan hal lain. Satu lagi, jarang bertengkar. Seneng banget rasanya kalau setiap telpon itu selalu baik-baik. Ya namanya juga pasangan LDR, plus susah komunikasi, sekalinya tengkar bakal susah baikannya.

Suatu ketika, ada salah satu teman satu kelasku mengajakku berkenalan. Namanya Pam. Hingga akhirnya kita memasuki dunia chat facebook untuk sekedar tanya tugas maupun basa-basi. Semakin hari Pam semakin aneh. Melihat cara chat dia, cara dia ketemu aku di kelas, aku ngrasa dia bukan cuma sekedar chat. Tak lama kemudian, temen satu gengnya Pam yang namanya Yuda bilang ke aku, “Jangan php-in Pam, Ka. Ya aku tau sih kamu posisi punya cowok tapi kan kamu belum tentu jodoh sama cowokmu itu”. Seketika aku kaget denger kata-kata Yuda. Padahal awalnya aku berharap banget kalau aku bisa berjodoh sama Tama tapi setelah denger kata-katanya Yuda, kok.. aku merasa ada yang seketika kandas. Aku terdiam dan hal itu memutuskan percakapanku dengan Yuda hari itu. Tapi percakapan kita berlajut, ternyata.

Sejak percakapan itu, waktu berlalu sangat cepat dan hubunganku dengan Yuda mendadak berubah jadi temen curhat. Kami saling mencurhatkan hubungan kami dengan masing-masing pacar kami. Well, aku merasa aku tidak kesepian lagi. Bercerita dengan Yuda ternyata adalah sesuatu yang asyik. Kami saling bertukar pikiran dan pendapat. Aku rasa, lama sekali aku tidak mengisi otakku dengan sudut pandang orang lain sejak aku lepas dari Billy. Singkatnya, Billy adalah masalalu yang walaupun sebentar tapi memberikan banyak pemikiran baru terhadapku.

Umurku saat ini sudah 19 tahun lebih. Yang aku lakukan adalah kuliah, kuliah, dan kuliah hingga aku merasa hidupku terasa monoton beberapa minggu ini. No life. No life yang aku maksudkan adalah tidak adanya hal yang membuatku merasa bahagia dengan semua euforianya dan juga tidak adanya hak yang membuatku merasa bersedih. Aku melewati hari begitu saja tanpa sesuatu yang special. Tidak ada hal yang seru, jadi tidak ada yang bisa aku ceritakan di dalam buku harianku hingga berhari-hari. Satu-satunya kendala adalah materi kuliah yang masih sulit aku pahami dengan sekali baca. Aku harus berkali-kali membaca dan berkali-kali mencoba agar aku bisa memahami materi yang diajarkan di perkuliahan. Untuk menghilangkan kemonotonan dan kebosananku, aku sesekali mengikuti kepanitiaan.

Semester dua telah berakhir, dan aku mengisi liburan semester dua dengan mengikuti semester pendek. Setelah aku selesai menempuh semester pendek, masih ada waktu beberapa hari untuk liburan. Dan, surprise! Tama lagi pulang. Aku baru ingat kalau sebentar lagi mau puasa, karena itu Tama pulang. Tama muncul di depanku. Dia muncul di depan mataku sendiri. Yeay! Dua hari aku habiskan buat jalan-jalan sama Tama setelah sekian lama aku gak ketemu sama dia. Sejauh ini sih aku masih tetep sering curhat-curhat sama Yuda. Dan yang biasanya sama Yuda bisa cerita terus, entah kenapa ketika aku bertemu dengan Tama aku menjadi kembali diam. Seakan tidak ada yang ingin aku ceritakan kepadanya. Ada apa dengan aku?

Aku merasa aneh ketika aku mulai memikirkan lelaki lain selain Tama. Tapi aku berusaha menepis semuanya dan mengusahakan untuk terus menjatuhkan hatiku kepada Tama berulang kali. Kelihatannya perasaanku dipaksa? Ya tapi memang harus seperti itu. Itu lebih baik daripada harus berselingkuh dan meninggalkan Tama demi orang lain. Aku tidak ingin menjadi orang yang meninggalkan. Menyakiti itu adalah suatu keburukan yang seharusnya tidak pernah dilakukan. Dan walaupun perasaanku hampir goyah, aku tetap berpihak pada Tama.

Hubungan kami berjalan dengan baik karena aku telah kembali menjatuhkan hati pada Tama. Hari ini adalah buka puasa pertama dengan Tama. Sambil ngabuburit, kami memutuskan untuk nonton bioskop. Entah sejak kapan, menonton film bioskop menjadi hobi kami berdua. Setiap ada film baru kami selalu menontonnya di bioskop. Itu sebabnya aku jarang memiliki film di laptopku karena aku sudah lebih dulu nonton sama Tama di bioskop. Karena hobi nonton bioskop, aku jadi gak suka download film hehehe. Selama puasaan, terhitung lebih dari tiga kali aku buka bersama dengan Tama diluar. Hidupku udah seperti sepenuhnya dengan Tama. Bisa dibayangkan bagaimana terbiasanya kami berdua.

Hari demi hari berganti dan Hari Raya Idul Fitri datang. Semua umat Islam merayakannya dengan suka cita dengan orang-orang yang paling mereka cintai. Tentu aku merayakan malam takbiran dengan Tama dan pagi hari ketika setelah selesai solat Ied, Tama mengirim aku pesan dan bilang kalau kemungkinan dia akan kembali satu minggu lagi. Itu adalah waktu yang cepat… sekali. Aku menjalani waktu dengan Tama begitu saja. Terlalu “menjalani”. Hingga aku tidak lagi memikirkan soal kepastian hubungan kami. Memang membuat ragu. Tapi dipersimpangan perasaanku, entah mengapa aku memilih yakin. Memilih menangis dan diam ketika aku mulai marah dengan hatiku sendiri, orang lain, maupun keadaan. Memilih menutup mata ketika semua mencoba bermain mata. Memilih menutup telinga ketika seseorang berusaha memanggilku. Memilih menjauh daripada harus menyakiti. Memilih memaklumi walaupun aku sering terkalahkan oleh sebuah benda layar sentuh yang bercahaya.

Di era modern ini, entah mengapa aku bisa sebegitu cemburunya dengan gadget yang selalu Tama bawa.

Bersambung.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s