Lima Tahun Part 12 : Mendewasa

Ceritanya panjang banget? Iya kan 5 tahun ^^v

Aku juga gak nyangka sih pacaran selama ini. Mungkin diluar sana ada yang lebih dari aku. Tapi aku gak nyangka aja cerita ini bisa ada di aku. Lima tahun bukan waktu yang sebentar… Bisa dibayangkan kan bagaimana kami bisa saling tau kebiasaan satu sama lain, berusaha mengubah perbedaan agar bisa menjadi persamaan dan membuat hubungan bertahan, sampai ikatan batin mungkin~

Masih dengan suasana lebaran, aku diajak oleh Tama untuk datang ke rumahnya dan bertemu dengan orang tuanya serta keluarga besarnya. Ini adalah pertemuan yang kesekian kalinya sejak kami memutuskan untuk berpacaran. Aku dan Tama sekeluarga, main ke tempat rekreasi keluarga. Saat bersama keluarga Tama, aku juga tidak banyak menceritakan tentang diriku kecuali jika memang aku disuguhi pertanyaan. Kebanyakan ikut menimpali dengan sedikit tawa dan senyum. Bisa dibilang sih, aku pemalu dan sedikit merasa canggung ketika harus bersama orang-orang yang baru aku kenal. Tapi sejauh ini, semua baik-baik saja. Keluarga besar Tama menerimaku dengan sangat baik. Jadi untuk bertemu lagi dan lagi, aku tidak merasa keberatan.

Keesokan harinya, setelah main sama keluarganya Tama, aku ikut halal bi halal dan silaturahmi bareng temen-temen IPA1. Kita biasa melakukan tradisi muterin rumah temen-temen satu kelas dan ke rumah wali kelas juga untuk bersilaturahmi sekalian mohon maaf lahir batin gitu (kan habis lebaran hehehe). Untuk acara halal bi halal kali ini, lumayan banyak yang ikut. Posisi kami semua sudah kuliah tapi jiwa masih kebawa-bawa hawa SMA jadi untuk acara seperti ini masih banyak yang menyempatkan diri. Tapi, di acara kaliini, Milly gak ikut. Dengan alasan dia gak tau kalau ada acara ini. Sudah hampir satu tahun kejadian rengangganya pertemananku dengan Milly, aku juga masih saja sensitif kalau denger namanya. Mungkin juga karena aku terlalu bawa perasaan jadinya sensitif ke Millynya gak ilang-ilang. Sejujurnya gak tau juga sih kalau nanti harus ketemu Milly, aku harus bersikap seperti apa mengingat masalah kita sebenarnya udah telalu jauh dimakan waktu.

Lima hari berlalu sejak acara halal bi halal itu, dan akhirnya Tama harus kembali berjauhan sama aku untuk menempuh hal yang seharusnya dia tempuh. Merasa ada yang hilang itu pasti. Setelah kurang lebih dua bulan Tama di Malang dan gak ada yang bikin jadwalku penuh kecuali ketemu sama Tama. Aku menyusun jadwalku setiap hari buat ketemu sama Tama, menyisakan tenaga buat main setiap hari sama Tama, bangun pagi hari tanpa peduli kantuk cuma buat ketemu sama Tama, jalan-jalan kemanapun sama Tama, kuliner sama Tama, pokoknya sama Tama. Tama seakan menjadi prioritasku yang sangat penting. Saking seringnya kami bertemu, kami jarang melakukan komunikasi via telpon dan texting. Setiap kali Tama ngajakin aku jalan, aku paling gak bisa buat nolak. Gak tau kenapa.  Karena kebiasaan kami seperti ini, aku merasa aneh ketika tiba-tiba harus berpisah dan aku akhirnya memilih untuk berdiam diri dirumah. Kuliner bareng Tama, ketemu keluarganya Tama, buka puasa bareng Tama, moment kedatangan Tama, semua sudah di belakang. Aku sudah berpisah dengan Tama sekitar 8 jam yang lalu, dan Tama mengirimkan sms terakhirnya 2 jam yang lalu. Lalu terasa hening semuanya.

Kalender menunjukkan tanggal 9 September 2013. Pembelajaran kuliah di semester tiga telah dimulai. Seperti mahasiswa lainnya, aku juga membuat target untuk satu semester ini. Target bisa mendapatkan nilai yang lebih baik dari semester lalu, hingga target buat ngrubah diri sendiri biar menjadi lebih baik. Hubunganku dengan Tama baik-baik saja. Semakin lama kami melangkah bersama, semakin sedikit intensitas kami bertengkar satu sama lain. Kami mulai mengerti kondisi satu sama lain.

Di semester tiga, aku mencoba menjadi mahasiswa aktif. Maksudnya yang kerjaannya itu gak cuma kuliah pulang-kuliah pulang. Aku mencoba keluar dari goa yang selama ini aku tinggali. Sekaligus aku juga ingin tau, seberapa penting eksistensi seseorang dalam menunjang kehidupannya di masa yang akan datang. Saatnya aku membuka pintu koneksi, memperbanyak teman, dan membuat kesibukanku sendiri. Sambil nungguin Tama pulang ^^

Di kampus, ada pengumuman tentang lowongan “ngeksis di kampus” melalui kepanitain dan organisasi. Pikirku, biar hidupku gak gitu-gitu aja, aku mau cobain buat ikutan. Sekalian pengen tau seberapa kadar kejenuhanku dengan hal-hal yang demikian. Aku mendaftarkan diri di salah satu kepanitiaan, mengikuti wawancara, menunggu pengumuman, dan diterima. Pertama kali kumpul dan mengikuti rapat, rasanya aneh. Kenapa aneh? Karena aku tidak terbiasa dengan itu. Selama ini jika aku diharuskan dalam satu lingkaran dan berdiskusi, itu pasti sama temen-temen deket yang kita udah tau karakter satu sama lain. Jadi, gak canggung. Untuk kemajuan diriku sendiri, mau gak mau aku harus mampu berbaur. Mengubah introvert menjadi extrovert :p

Satu mingguan aku memulai kehidupan yang baru #tsah!. Aku mempelajari banyak hal, mendengar dan mengerti istilah-istilah baru, mulai memiliki prioritas yang lain, dan yang paling bikin seneng sih punya banyak temen baru. Dan… mengenal yang namanya kakak tingkat. Aku mulai memahami fungsi dari eksistensi itu sendiri hahaha. By the way, ada satu kakak tingkat yang baru aku kenal namanya Mas Ten. Awalnya sih kenal di facebook kerana aku join grup kepanitiaannya. Kebetulan lagi, Mas Ten ini ternyata adalah Kepala Divisiku. Karena sudah saling kenal dan memang ada kepentingan antara satu sama lain, mulailah kami berhubungan via personal chat. Percakapan yang kami bahas jelas adalah percakapan penting terkait kepanitiaan. Tapi aku menyadari, ketika kami berinteraksi di dunia nyata, Mas Ten tidak se gamblang ketika berinteraksi di dunia maya. Walaupun begitu, kami masih dapat berinteraksi dengan baik ketika bertemu.

Ketika aku keluar dari goaku, sebenarnya gak cuma Mas Ten aja sih yang aku kenal. Masih banyak orang baru lain yang aku kenal. Tapi gak tau kenapa, hubunganku dengan Mas Ten adalah hubungan yang paling intens jika dibandingkan hubunganku dengan orang baru yang lain. Karena itu, aku akan menceritakan Mas Ten lebih detail dibanding yang lain. Aku dan Mas Ten ketemu hampir setiap hari di kampus, dimana-mana bisa saja ketemu sama Mas Ten, di media sosial juga ketemu Mas Ten, dimana-mana. Dari yang awalnya ngomongin hal penting, jadi memasuki zona percakapan tidak penting. Tapi aku enjoy-enjoy aja tanpa ada pikiran negatif apapun. Namanya juga nambah temen. Kadang aku juga keceplosan cerita ke Mas Ten ketika aku ngrasa galau sama Tama. Sejauh ini, Mas Ten orangnya cukup baik.

Gak tau kenapa keadaanku dan Mas Ten membuat kami sering sekali bertemu. Se-ring.

Bersambung…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s