Opini : Menikah?

Assalamu’alaykum. Kayaknya hari ada opini yang sedikit frontal buat dibicarain apalagi yang udah umur-umur wajib nikah ya hehehe. Aku mau berbagi opiniku disini terkait dengan pernikahan. Secara pribadi, kata-kata ini lumayan horror sih mengingat aku juga belum merasakannya dan umurku terbilang masih muda untuk menikah :p Untuk para single, tenang aja, aku dalam opini ini juga gak bakal mengompori kalian untuk segera menikah kok. Semoga postingan ini bersahabat dan gak bikin sakit hati ya hehe ^^v

Sebelumnya, tulisan ini bukan bersumber dari pengalaman pribadiku karena memang aku belum menikah. Tulisanku ini berdasarkan atas apa yang aku lihat selama ini dalam lingkungan keluargaku sendiri, maupun keluarga orang lain. Berdasarkan juga cerita-cerita yang datang ke telingaku. Jadi semuanya aku rangkum menjadi satu.

Alasanku untuk tidak mengompori agar segera menikah (terlebih buat yang belum ada pasangan) adalah karena aku tau rasanya ditanya “kapan nyusul?” atau “kapan menikah?” atau “jangan kelamaan single, menikah aja nanti gak kena dosa” dan lain sebagainya, rasanya itu me-nya-kit-kan. Entah hanya presepsiku saja, atau aku yang terlalu sensitif ya, tapi aku berfikir bahwa pertanyaan itu tidak sopan. Me-nga-pa? Ka-re-na, ya tau sendirilah kalau jodoh itu di tangan Tuhan. Kalau Tuhan memang belum memberikan jodoh, mau gimana lagi. Mau memaksa Tuhan? Ya gak bisa. Tentu Tuhan belum memberikan jodoh dengan cepat, pasti ada alasannya. Kita semua tau kan, Tuhan selalu tau apa yang terbaik bagi umatNya. Buat yang sudah punya pasangan juga, memang daripada berduaan terus dosa, lebih baik disegerakan untuk menikah. Tapi jangan asal ada terus cuss nikah 😀 ada banyak hal yang harus dipikirkan matang-matang.

Sudah ada pasangan atau belum ada pasangan, sebaiknya periksa hati dulu deh. Apa niatan kalian untuk segera menikah atau menginginkan pernikahan. Nomor satu dan yang paling penting adalah niat karena Allah. Menikah karena mau beribadah kepada Allah. Kalau niatnya sudah untuk Tuhan, dalam sepanjang perjalanan berumah tangga pasti keduanya berusaha untuk terus memperbaki diri dan menggapai surga Allah berdua. Istilahnya, hati mereka dijaga sama Tuhan. Tapi juga masih ada kok orang yang menikah karena hal lain, karena alasan lain, dan karena niat yang lain. Ada pernikahan karena saham, pernikahan karena dia cantik atau karena dia ganteng, pernikahan karena jabatan, pernikahan karena meneruskan bisnis keluarga biar gak bangkrut, pernikahan karena kecelakaan diluar nikah, pernikahan karena disuruh orang tua, pernikahan karena udah umurnya buat menikah-jadi yang ada yaudah itu yang dinikahin, pernikahan karena udah gak kuat ditanyain kapan nikah, dan masih banyak lagi. So, tinggal kitanya gimana. Mau meniatkannya seperti apa. Setelah mempersiapkan niat, lihat yang lain-lain juga. Modal nikah gak cuma niat ^^

Modal nikah yang kedua setelah niat tadi ya, harus mengetahui atau mengenal siapa sih orang yang kita nikahi. Kita harus tau seperti apa sih dia. Apakah dia orang yang bertanggung jawab atau tidak. Bagaimana agamanya. Dan… keluarganya. Ini penting. Biar setelah menikah, gak syok :p

Modal menikah yang ketiga adalah dari segi fanansial. Menikah adalah salah satu pembuka pintu rezeki dan rezeki bagi setiap yang sudah menikah memang sudah di jamin sama Allah. Tapi bukan berarti lepas tangan dan gak mau berusaha untuk bekerja keras dalam bekerja dong? Pemahaman soal finansial itu sendiri juga harus diketahui. Mulai dari kemampuan mengatur keuangan, rajin menabung, meminimalisir pengeluaran-pengeluaran sosial yang tidak penting, dan sejauh yang sudah aku coba untuk menata keuangan pribadi, hal ini masih sulit. Masih butuh banyak belajar dan masih butuh banyak kreativitas dalam mengatur keuangan.

Modal menikah yang keempat adalah rasa klik. Apa sih maksudnya rasa klik? Rasa klik adalah perasaan dimana pasangan satu dengan yang lain sama-sama merasa mau menjalin hubungan seumur hidup tanpa berat hati dan tidak ada rasa keraguan di dalam hati keduanya ^^

Modal menikah yang kelima adalah jadilah pribadi yang selalu mau belajar, mendengarkan, dan memahami. Mengapa demikian? Ini berkaitan dengan sifat rendah hati dan tidak merasa tinggi. Sifat down to earth itu sangat diperlukan dalam berumah tangga. Kita bukanlah makhluk yang sempurna, maka dari itu, belajar dan menjadi lebih baik adalah sudah tugas kita yang harus kita lakukan. Kita perlu belajar bagaimana agar bisa menjadi suami yang baik, kita perlu belajar bagaimana agar bisa menjadi istri yang baik, kita harus belajar bagaimana menjadi pasangan yang baik. Itu perlu agar keharmonisan tetap terjalin.

Setelah menikah, disarankan buat sering-sering belajar atau membaca buku tentang parenting. Menurut salah satu temanku yang kebetulan kuliah di jurusan psikologi, belajar parenting itu sangat perlu bagi setiap pasangan yang baru menikah dan akan memiliki anak. Suatu keluarga akan cenderung lebih bahagia ketika mereka berhasil mempersiapkan bekal-bekal yang dibutuhkan, salah satunya adalah pembelajaran tentang parenting. Seperti yang kita tau, mendidik anak bukanlah hal yang mudah. Pendidikan terhadap anak, jika gagal, tidak dapat diulang lagi. Anak itu titipan Tuhan yang harus dijaga dengan baik, sedangkan melakukan penjagaan dengan baik dan benar tidaklah mudah.

Berdasarkan uraian diatas, semua itu adalah alasan mengapa aku pribadi menolak pernikahan yang “pokoknya nikah aja”. Jika seorang lelaki berani menyatakan menikah dan mencintai karena Allah, silahkan bagaimana membuktikannya. Begitu juga dengan seorang wanita. Jika dia berani meminta seorang lelaki untuk menikahinya, apa yang bisa dia berikan? Apakah dia sudah merasa mampu untuk mengemban tanggungjawab menjadi seorang istri yang sebenarnya tidak kalah beratnya dengan suami? Tentu pembuktian tersebut adalah dengan berpikir dengan matang dan menyiapkan ‘modal’. Jika memang belum siap, lebih baik jangan nekat daripada nanti berat ketika menjalaninya ^^

Menikah itu tak selamanya menyenangkan, juga tak selamanya menyedihkan. Tergantung bagaimana pasangan tersebut menyikapi setiap masalah yang ada dan tentunya dengan sikap dewasa yang harus terus dipupuk. Disini aku berharap supaya orang-orang yang mau melakukan pernikahan untuk berpikir terlebih dulu karena ini adalah ikatan seumur hidup, bukan hanya empat lima tahun. Bukan sekedar menggunakan perasaan tetapi juga dengan logika.

Karena ini sekedar opini, maafkan jika ada salah kata ^^v Stay Gorgeous and Be Kind! 🙂

Advertisements

2 thoughts on “Opini : Menikah?”

  1. great artikel, aulia 🙂

    karena faktor lingkungan, faktor guyonan, dll
    menikah mereka ibaratkan sesuatu seperti lelucon, bully-an
    pertanyaan kapan nikah udah terlalu mainstream dan membosankan
    padahal menikah itu perlu komitmen dan besar tanggung jawabnya.

    semoga kalo kita menikah tetep diniatkan karena Allah, karena memang siap, dan bukan mikir enaknya aja 😀

    1. Aamiin aamiin. Semoga masalah dari diri sendiri dan orang-oramg sekitar bisa jadi pelajaran buat diri kita sendiri biar terus bisa menjadi pribadi yang lebih baik 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s