Lima Tahun Part 13 : Bukan Tama

“Ka, mulai sekarang kamu yang ngasih jarkom ke anak-anak ya. Jadi nanti kalau ada apa-apa aku bilangnya ke kamu”, kata Mas Ten. Sudah macam asisten pribadi saja aku. Namanya juga suruhan dari kepala divisi dan tanggungjawabnya juga cuma jarkomin temen-temen. Itu tergolong tugas yang mudah, jadi gak mungkin aku bilang enggak.

Karena aku memiliki kesibukan baru, aku tidak lagi berlarut-larut dalam kesedihan karena tidak adanya Tama di dekatku. Awal jauh dari Tama terasa berat se-ka-li. Tapi lama kelamaan, aku terbiasa dengan itu. Aku terbiasa tanpa Tama. Aku terbiasa dengan segala kesibukan baruku. Aku fokus pada hal yang saat ini aku kerjakan. Aku fokus memperbanyak teman setelah sekian lama aku merasa cukup dengan teman yang itu-itu saja. Aku menghabiskan sebagian besar waktuku di kampus. Mulai dari pagi hingga malam. Dari hari Senin hingga Sabtu. Aku sama sekali tidak memberikan kesempatan untuk “kembali kepada diriku”. No me time.

Setiap kali aku merasa lelah, aku tidak memikirkan hal lain selain segera pergi tidur, dan segera esok. Hingga pada satu titik, aku ingin kembali kepada diriku. Melihat kedalam perasaan yang selama ini tidak aku indahkan. Malam itu, ketika aku kembali menengok hatiku, aku merasa sangat kosong. Aku tidak merasa senang, juga tidak merasa sedih. Segalanya terasa datar. Tidak ada roller coaster, tidak ada euforia. Aku tidak menemukan inspirasi dan hal itu membuatku semakin jarang mengisi buku harianku.

Tibalah pada hujan pertama di pertengahan bulan September. Malamnya setelah rapat, Mas Ten mengajakku untuk mencari makan malam di luar. Kebetulan aku juga lapar karena dari tadi siang belum makan saking padatnya aktivitas di kampus. Akhirnya aku memutuskan untuk mengiyakan ajakan Mas Ten. Kami memutuskan untuk berjalan kaki. Niatnya cari makan yang deket-deket aja. Tapi ternyata kami kejauhan jalannya, ditambah memang gak nemu tempat makan yang dekat karena saat itu memang sudah cukup malam. Sepanjang jalan, Mas Ten menanyakan banyak hal terkait dengan aku, dan aku menjawabnya dengan senang hati. Tidak terasa waktu menunjukkan pukul 21.30 dan itu artinya aku harus segera kembali ke rumah. Aku dan Mas Ten bergegas untuk pulang. Aku menuju ke parkiran untuk mengambil motorku, sambil berpamitan kepada Mas Ten.

Sesampainya di rumah, aku melihat handphoneku. Di layar tertera 6 missed calls dari Tama. Aku merasa bersalah banget. Komunikasiku dengan Tama jarang sekali, sekalinya Tama telpon malah gak aku angkat dan aku malah makan malam sama cowok lain. Aku sedih sekaligus merasa bersalah karena gak stand by. Entah pikiranku yang berlebihan atau gimana, malam itu aku merasa jahat banget. Lalu, aku online facebook. Mas Ten ternyata online juga dan kami akhirnya main chatting. Sadar gak sadar, aku cerita kejadian gak angkat telponnya Tama ke Mas Ten. Bakal masalah gak sih kalau aku curhat sama Mas Ten?

Walaupun aku telah merasa bersalah, aku tetap berhubungan dengan Mas Ten.Terkait dengan kepanitiaan yang kami berdua jalani. Hampir setiap selesai rapat, Mas Ten ngajakin aku makan. Entah cuma makan di koprasi mahasiswa, maupun makan diluar. Sambil ngomongin hal yang penting sih walaupun juga ada hal-hal gak pentingnya.

“Ka, kamu mau makan apa?”
“Apa ya, aku gak terlalu laper sih. Aku pesen minum aja. Mas Ten kalau mau makan, makan aja.”
“Yaudah, kamu mau minum apa, Ka?”
“Aku mau pesen Jus Stroberi deh Mas.”
“Kamu tunggu sini aja, aku yang pesenin.”
“Oh, oke. Makasih Mas Ten.”

Sambil makan, kami sambil membahas beberapa topik penting perihal kepanitiaan tetapi setelah itu percakapan kita berubah. Mas Ten memberikan banyak pertanyaan kepadaku. Mulai dari tanya tentang hal kesukaanku, menanyakan beberapa pendapatku agar dia bisa mengerti apa yang aku pikirkan, dan masih banyak lagi. Entah mengapa aku lebih banyak menjawab pertanyaan daripada bertanya. Aku dan Mas Ten banyak menghabiskan waktu bersama, yang awalnya dari sekedar urusan kepanitiaan, sekarang malah sibuk bercerita tentang cerita masing-masing. Karena itu, banyak orang yang malah nge-cie-cie-in kami. Awalnya aku mikir, “Ngapain sih orang-orang ini ngecie-ciein aku?”, tapi seiring berjalannya waktu aku menjadi terbiasa. Sejujurnya, aku telah merasakan hal-hal ganjil. Tetapi aku memilih untuk cuek dan bertindak seperti tidak marasa ada hal-hal yang ganjil. Dan disaat aku sibuk-sibuknya karena acara kepanitiaan terjadi setiap minggu ditambah tugas kuliah yang gak kelar-kelar, Tama tiba-tiba pulang karena sakit. Tama kenapa tiba-tiba sakit sih?

Tama sakit beberapa hari, setelah sembuh, dia menyempatkan buat ketemu sama aku. Aku juga menyempatkan untuk ketemu sama dia. Tentu gak mudah mencuri waktu disaat waktuku udah bener-bener padat acara. Hasilnya, untuk beberapa hari selama Tama disini, aku telat hadir rapat. Kalau ditanya aku darimana, jawabnya pasti habis ada urusan penting. Padahal aku habis kencan sama Tama hehehe. Sekitar dua sampai tiga hari aku mencuri waktu sedikit-sedikit agar bisa jalan sama Tama. Tidak ada yang tau kalau aku telat rapat karena habis kencan kecuali Nadia. Aku deket sama Nadia sejak semester tiga karena dia yang mengajakku untuk menjadi mahasiswa aktif dan gak cuma kuliah pulang-kuliah pulang. Aku akui, memang dia tipikal aktivis banget.

Gak kerasa, sudah satu tahun aku menjalin hubungan jarak jauh dengan Tama. Dengan berkomunikasi sekitar dua hingga tiga minggu sekali. Dengan kesibukan masing-masing. Dengan tanggungjawabnya masing-masing. Pertemuan kemaren dengan Tama sudah membuatku merasa cukup untuk melepas rindu. Rindu? Apa aku serindu itu? Bahkan rindu sampai gak kerasa saking sibuknya aku. Jangankan untuk merasakan rindu, buat menikmati dan menyapa senja saja aku gak sempat.

Aku berada pada titik jenuhku. Perasaanku merasa datar. Seakan aku memang harus melakukan apa yang aku lakukan, tetapi tanpa hasrat. Aku jenuh menjalin hubungan jarak jauh. Aku jenuh dengan kuliahku. Aku jenuh dengan kegiatan kepanitiaanku. Aku jenuh bertemu dengan banyak orang. Aku merasa ingin mengisolasi diri sebentar saja. Setidaknya hingga rasa jenuhku berkurang. Tapi, sayangnya itu tidak bisa aku lakukan.

Dalam kondisi yang masih jenuh, Mas Ten kembali mengajakku untuk makan bareng. Aku mengiyakannya. Siapa tau ketika bersama dengan Mas Ten, jenuhku bisa hilang. Setelah makan, Mas Ten ngajak aku buat sekedar duduk-duduk. Wajah Mas Ten mendadak jadi sedih. Aku bingung kenapa dia mendadak jadi sedih gitu. Akhirnya, Mas Ten menceritakan masalahnya. Masalahnya terkait dengan kuliahnya. Dan sejujurnya aku juga hanya bisa mendengarkan tanpa bisa memberi solusi. Aku cuma bisa bilang “Sabar, Mas. Nanti pasti ada jalan keluarnya”. Dan baru kali itu, aku melihat Mas Ten putus asa banget. Setelah itu, keadaan menjadi hening sangat lama. Jenuhku hilang, tapi berubah menjadi rasa iba.

Bersambung…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s