Lima Tahun Part 15 : Salah

Akhirnyaaa setelah sekian lama aku menunggu telepon dari Tama, dia telepon aku juga. Aku berhasil pada kesabaranku menunggu kabar dari Tama. Gini banget ngrasain long distance relationship tanpa tiap hari bertukar kabar. Hanya sesekali dalam beberapa minggu via telepon. Sedihnya, aku gak bisa hubungin dia duluan. Statusku dengan Tama, ya masih pacar. Kita gak putus kok. Beberapa teman bilang, “Kamu itu udah kayak single. Udah cari yang lain aja. Ngapain nungguin dia. Gak pasti”. Tapi juga ada yang bilang, “Kalian itu udah jadian dari SMA, kamu udah kenal keluarganya. Dia juga udah kenal keluargamu. Perjuangin aja. Toh kamu juga nunggu dia sama kuliah kan? Nanti lulus langsung nikah”. Aku pilih yang mana? Ya milih bertahanlah. Siapa tau nikah beneran sama Tama hehehe.

“Hallo… Assalamu’alaykum”
“Wa’alaykumsalam”
“Kamu lama gak telepon aku, Tam. Kangen aku hahaha”
“Iya hehehe ini baru sempet, Sayang”
“Apa kabar kamu?”
“Baik. Kuliahmu gimana?”
“Kemaren baru aja UTS. Oh iya terus habis UTS aku main sama temen-temenku ke pantai loooh”
“Temen-temen siapa?”
“Temen-temen sekelas semester dua hehe”
“Kamu naik motor sendiri ke pantai?’
“Ya enggaklah. Ada temenku namanya Genta. Dia yang boncengin aku”
“…”
“Hallo Tama? Kamu kok diem aja? Kamu marah kalau aku ke pantai?”
“Kamu ijin sama orang tuamu gimana?”
“Ya ijin biasa sih, bilang kalau mau ke pantai sama temen-temen.”
“Gak bilang diboncengin siapa?”
“Enggaklah, ngapain. Kan juga aku dibonceng sama Genta gak terprediksi. Kamu kenapa sih?”
“…”
“Tama kamu marah aku boncengan sama cowok lain?”
“Gak tau.”
“Tama, ya mana ada sih cowok yang tega biarin cewek nyetir sendirian ke pantai.”
“…”
“Kamu marah sama fotoku sama temen-temenku yang ke share di fb?”
“Difoto itu kalian kayak ke pantai double date tau”
“Itu aku rame-rame sama anak banyak kebetulan yang ke share yang cuma foto berempat, Tama.”
“…”
“Letak salahnya dimana dan kamu gak sukanya dimana?’
“Gak tau.”
“Aku harus apa?”
“Gak tau. Terserah kamu.”
“Tama please. Kamu sensitif banget.”
“Kamu pingin bebas?”
“Tama kamu ngomong apa se. Kamu gak percaya banget sama aku. Ok, maafin aku kalau emang aku ada salah sama kamu. Maafin aku udah seneng-seneng disini padahal tau kamu disana gak bisa seneng-seneng kayak aku. Aku minta maaf Tama.”
“Iya. Yaudah kamu istirahat. Udah malem.”
“Iya..”
“Aku sayang sama kamu.”
“Aku juga…”

Aku bingung. Aku gak paham. Apa memang setiap penganut long distance relationship pasti pernah merasakan seperti ini? Biasanya aku bakal nangis kalau Tama sudah mulai seperti itu. Tapi kali ini tidak. Aku marah. Cara dia membatasiku tidak rasional. Tidak ada alasan yang kuat. Tapi aku berusaha berpikir positif kalau semua ini adalah dampak dari hubungan jarak jauh yang membuat dia lebih sensitif terhadap aku. Tau yang lebih nakutin saat tengkar dalam kondisi jarak jauh? Kehadiran orang lain.

Kejadian di telepon itu masih berlanjut. Setelah aku merasa jenuh karena hal itu, Tama bilang dia tidak ingin melanjutkan studinya. Dia ingin bekerja. Aku berusaha meyakinkan dia, bahwa umur-umur 19 tahun baru mau menginjak 20 tahun, lebih baik studi dulu. Tidak perlu terburu-buru memikirkan pekerjaan, apalagi pernikahan. Toh, aku juga masih kuliah, baru semester tiga lagi. Tama ini, ada-ada saja.

Disaat kondisiku seperti ini, taraaaaa! Mas Ten ngajakin aku nonton setelah aku pulang kuliah. Dan aku mau. Aku mau begitu saja. Sepulang dari nonton, kami memutuskan untuk makan malam. Waktu kami mau makan, Mas Ten memarkirkan motornya di pinggir jalan. Kebetulan motornya Mas Ten ini motor matic, dan Mas Ten naruh tasnya di bagian depan motor. Beberapa detik kemudian, tasnya Mas Ten yang tadinya ditaruh di bagian depan  motor, hilang. Diambil sama orang dan orang itu lari pake motor. Teriak juga gak membuahkan hasil. Ngejar juga udah gak sempet karena malingnya cepet banget. Aku syok sama kejadian tadi.

“Mas, isi tasnya apa?”
(Sambil bingung dan inget-inget isinya apa aja) “Apa yaaa hmm jaket himpunanku itu penting banget, binder, KRS, KHS, apa lagi yaaa. Jaket himpunan itu jaket himpunan pengurus pertama..”
“Dompet?”
“Dompet ada di kantong..”
“Yah Mas…”
“Udah gapapa, Ka. Mau gimana lagi.”

Akhirnya kita makan dan berusaha buat gak bahas tas yang dicuri tadi. Biar gak kepikiran banget. Akhirnya kita berbicara topik pembicaraan yang santai-santai aja.

Setelah itu, Mas Ten anterin aku kembali ke kampus buat ambil motorku. Sebelum pulang, ada sedikit percakapan kecil.

“Mas baru nonton sama aku sekali, kena musibah gini. Tasnya ilang.”
“Iya, Ka. Segininya ya kalau ngedeketin kamu”
“Gak tau, Mas. Mungkin ini baru level 1 kalau di game.”

Jadi bener. Selama ini aku gak pernah percaya sama kata orang-orang kalau Mas Ten deketin aku karena memang tidak ada pengakuan darinya secara langsung kepadaku. Aku juga berpikir kalau hubungan kita sebatas teman satu divisi. Sebatas adik tingkat dan kakak tingkat. Tapi malam ini, aku mendengar pengakuannya secara langsung.

Bersambung…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s