Lima Tahun Part 16 : Pengakuan

Keesokan harinya setelah kita keluar buat nonton, Mas Ten seharian ini bersifat aneh. Gak tau kenapa aku merasa perlakuannya ke aku… ya aneh aja. Seperti bukan Mas Ten yang biasanya. Mas Ten yang memang perlakuannya berubah ke aku, atau aku yang sekarang lebih peka? Aku tidak paham.

Malamnya, ketika aku sudah merasa semakin awkward dan aneh, aku memutuskan untuk mengarahkan topik pembicaraanku dengan Mas Ten menuju pada hal yang ingin aku ketahui.

“Mas, Mas kenapa nglakuin ini semua ke aku?”
“Gapapa, Ka. Aku pingin nglakuin aja”
“Mas, tapi aku lama-lama jadi ngrasa gak enak sendiri. Kenapa Mas lakuin itu?”
“Ya gapapa, Ka. Ada masalah?”
“Bilang aja apa alasan Mas lakuin ini semua ke aku..”
“Aku suka sama kamu, Ka.”

Setelah kejadian itu, aku berfikir untuk menyelesaikan beberapa urusan dengan Mas Ten. Malam keesokan harinya kami berbicara empat mata, di gazebo kampus. Bukan lagi soal rapat, tapi soal hati kita masing-masing. Aku bicara semua hal yang Mas Ten ingin tau dan dia juga mengutarakan apa yang dia inginkan. Dia hanya menginginkan didekatku, tak mempermasalahkan status. Aku menolak hal itu. Aku ingin menjaga jarak. Alasannya? Aku tidak ingin terbiasa dengan Mas Ten dan membuat perasaanku ke Tama menjadi goyah. Tidak menutup segala kemungkinan kalau aku bisa saja suka dengan Mas Ten. Tapi komitmenku dengan Tama jauh lebih kuat sehingga aku tidak ingin meninggalkan Tama hanya karena alasan bahwa aku telah menyukai orang lain.

Mas Ten, aku minta maaf sekali. Walaupun komunikasiku dengan Tama bisa dibilang jarang sekali, dan aku memang merasa seperti single, tapi aku tetap memiliki status dengan Tama. Aku tidak bisa meninggalkan Tama begitu saja, selama hampir tiga tahun, Tamalah yang bertahan denganku.

Sejak hari itu, Mas Ten berubah. Sangat berubah. Dia benar-benar menjaga jarak dengankku bahkan ketika kami harus bekerjasama dalam kepanitiaan. Terus gimana? Aku sama Mas Ten tidak bisa bekerjasama dalam kepanitiaan. Entah siapa yang sebenarnya tidak mampu untuk kembali bekerjasama. Detik-detik akhir kepanitiaan rasanya kacau. Aku berusaha melupakan kejadian kemarin, tapi aku tau Mas Ten belum tentu mampu. Sebagian anggota panitia merasa janggal dengan hubungan kami, sehingga beberapa orang memutuskan untuk bertanya langsung kepadaku, seperti Nadia dan Mas Sharif.

“Ka, kamu kenapa sama Mas Ten?”
“Ha? Gapapa.”
“Jangan bohong, kelihatan banget.”

Lalu aku menceritakan kejadian di hari itu…
“Haduh, Kaaaa. Seharusnya jangan kamu tolak dulu. Kamu baik-baikin dulu apa gimana. Imbasnya ke kepanitiaan ini.”

Aku diam saja. Aku tidak tau harus melakukan pembelaan diri seperti apa lagi. Aku tidak tau apakah ada yang salah dengan mengungkapkan apa yang aku rasakan saat itu. Tapi aku bisa apa? Aku tidak punya prediksi apapun tentang hal ini. Yang aku tau, ketika memang sudah ada yang mengganjal di hati, harus segera diutarakan. Jika seseorang menyalahkan aku, aku memilih untuk tutup telinga. Tidak peduli jika aku harus dihujat. Aku tidak peduli. Percuma menjelaskan apapun kepada mereka, mereka tidak akan pernah bisa paham. Lebih baik aku diam. Menerima. Bahkan ketika Mas Ten memutuskan segala bentuk pertemananku dengannya di media sosial dan dunia nyata.

Banyak orang yang bilang, “Waktunya gak tepat, Ka. Seharusnya setelah kepanitiaan ini selesai”. Aku tidak peduli soal ketepatan waktu. Selama ini, aku merasakan sakit hatiku juga diwaktu yang menurutku tidak pernah tepat. Ini hanya soal bisa menerima atau tidak.

Aku juga bingung ketika aku merasa kesulitan bekerjasama dengan Mas Ten, tapi aku dituntut untuk itu. Aku juga sama bingungnya dengan para panitia yang lain. Aku bingung dengan kelanjutan kepanitiaan, aku bingung dengan membagi waktu agar aku bisa belajar untuk UAS, dan aku bingung terhadap hubunganku dengan Tama yang tidak jelas karena komunikasi yang sangat terbatas dan jarang. Siapa yang bisa memberikan aku solusi? Dan memangnya ada solusi untuk semua ini? Enggak. Aku tau yang aku perlu hanya diam, bersikap tidak peduli, bersikap biasa aja, bersikap tetep ketawa walaupun sejujurnya aku merasa capek dengan kondisi itu.

Yang membuatnya kembali seperti semula dan membuat keadaan menjadi membaik, hanya waktu. Hanya itu yang bisa menjadi solusi untuk setiap hati yang merasa hancur.

Bersambung…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s