Lima Tahun Part Bonus

Ceritanya disini memang aku lagi deket banget sama Mas Ten, sedeket apa? Gak tau. Tapi kok kalau dilihat-lihat dan dirasa-rasa juga memang deket banget.

Saat itu mau ada rapat kepanitiaan, kebetulan waktu itu aku gak bawa motor ke kampus. Aku izin ke Mas Ten kalau aku gak bisa ikut rapat sampai malem banget karena aku harus pulang naik angkutan umum. Takut angkutan umumnya habis.

Beberapa jam sebelum rapat…
“Mas, aku izin nanti gak bisa ikut rapat sampai malem..”
“Kenapa, Ka?”
“Aku gak bawa motor”
“Gak bisa, Dek..”

Beberapa menit sebelum rapat…
“Mas, gimana? Boleh ya aku pulang duluan?”
“Gak bisa, Dek. Harus sampai rapat selesai..”
“Loh, Mas. Rapatnya jangan lama-lama deh…”
“Tergantung yang dibahas, Dek..”
“Hmm…..”

Rapatpun dimulai dan beneran itu rapat lama banget sampai akhirnya jam setengah 10 malem rapat itu baru selesai. Aku buru-buru berdiri sesaat setelah rapat resmi ditutup. Tanpa berpamitan, aku pergi gitu aja. Aku gak peduli kalau aku harus dibilang sebagai adik tingkat yang gak sopan karena pergi gitu aja, lebih baik aku kehilangan image daripada aku harus kenapa-kenapa ditengah jalan waktu pulang. Kejahatan itu dimana-mana, lebih jahat dari semua panitia yang ikut rapat saat itu.
“Ka, kamu mau kemana?”.¬†Mas Ten tiba-tiba ada di belakangku.
“Pulang, Mas. Keburu kehabisan angkutan umum.”
“Jam segini emang udah gak ada angkutan umum, Dek..”
“Yaudah, Mas pokoknya pulang”. Kita ngobrol sambil terus jalan.
“Jalanmu jangan cepet-cepet, Ka.”
“Emang gini aku kalau jalan”
Sampai di gerbang depan kampus, Mas Ten masih ikuti aku.
“Mas ngapain?”
“Gapapa, Dek..”
Sampai nyebrang jalan raya dan aku nunggu di tempat pemberhentian angkutan umum, Mas Ten ikutin aku. Tapi aku yakin ini emang gak bakalan ada angkutan umum.
“Mas pulang aja. Aku mau pulang.”
“Naik apa, Ka?”
“Jalan kaki”
“Udah malem, Ka”
“Aku tau mas ini udah malem”
“Telpon aja minta jemput”
“Gak ada yang jemput, Mas pulang aja jangan ikutin aku.”
Aku lanjut jalan. Dan sepanjang jalan raya yang kalau jalan kaki kerasa panjang banget itu, Mas Ten terus ikutin aku. Sampai di ujung jalan dimana aku harus nyebrang.
“Mas, aku mau nyebrang. Rumahku masuk jalan itu. Mas pulang aja, udah deket kok”
“Yaudah aku telpon Sharif dulu biar aku dijemput disini”
Terus Mas Ten telpon Mas Sharif…
“Udah bisa Mas? Kalau gitu aku pulang dulu, ini udah jam 10”
“Iya, Ka”

——————————————————————–

Rapat selesai lebih cepat saat itu. Terus waktu mau pulang, kontaknya Mas Ten ilang. Mas Ten cari pinjeman motor ke temen-temen yang ada saat itu, tapi gak ada yang bisa.
“Ka, motormu nganggur?”
“Hmm mau dipake buat ambil kontak? Nih pake aja Mas, aku tunggu di kampus sama anak-anak.”
Terus salah satu temenku nimbrung..
“Ikut aja, Ka. Kamu loh di kampus sama siapa? Pulang semua orang-orang.”
“Hah? Ikut kemana?”
“Ke Gadang, Ka. Ambil kunci di rumahku di daerah Gadang.” Mas Ten bantu menjawab
“Gadang?…….. Jauh”
“Daripada sendirian di kampus”, kata temenku
“Iya deh”, aku terhasut

Akhirnya aku dan Mas Ten sampai di rumah Mas Ten di daerah Gadang, aku menunggu Mas Ten diluar rumahnya. Beberapa saat kemudian Mas Ten keluar.
“Ka, kontaknya di rumah yang satunya”
Feelingku bilang ini bakal ke rumah yang lebih jauh deh…. Dan, benaaaar!
“Mas ini serius?”
“Iya, Ka. Ambil kontak di rumah yang satunya..”
Sesampainya di rumah Mas Ten, aku dipersilahkan masuk. Aku bertemu dengan beberapa anggota keluarganya. Dan dijamu dengan baik.
“Ka, ayo kontaknya udah ketemu”
“Oke, langsung balik ke kampus, Mas?”
“Jalan-jalan dulu mau? Masih sore”
“Iya deh, jangan lama-lama ya, Mas. Mau kemana Mas?”
“Ikut aja, Dek..”
Aku dan Mas Ten jalan-jalan ke tempet yang hits disana hehe jalan-jalan santai aja sih, itung-itung ngilangin jenuh. Dan selepas maghrib, kami kembali ke kampus. Tapi mampir dulu ke warung, cari makan. Sejujurnya, perjalanan itu bener-bener jauh…..
“Mas masih jauh ini? Aku capek duduk hahahahahaha”
“Iya, Ka”
“Mas ngebut mas hahahahaha”
“Ngawur, Kaaa”
“Hahahahahaha”
Sesampainya di kampus, Mas Sharif dateng dan ngasihin kontaknya Mas Ten. Oh, oke! Jadi kontaknya disembunyiin. Ternyata Mas Ten dikerjain. Oke……..

——————————————————————–

Tiba-tiba ditengah hari Minggu yang damai, Mas Ten sms aku.
“Ka, bisa ke kampus?”
“Ngapain, Mas?”
“Ada hal penting yang harus dibahas.”
“Penting banget, Mas?”
“Iya, Dek..”
Sesampainya di kampus, aku ketemu Mas Ten. Dia lagi ngerjain tugas kuliahnya waktu itu.
“Mas mau ngapain sih?”
“Rapat”
“Siapa rapat? Aku perlu jarkom anak-anak?”
“Gak usah, yang rapat cuma pengurus inti”
“Laaah ngapain aku ikut?”
“Udah, Ka. Kamu ikut aja”
Lalu tiba-tiba segerombolan pengurus inti masuk ke ruangan. Dan mereka rapat. Aku? Main handphone.
Sekitar satu setengah jam kemudian rapat selesai.
“Mas, terus mas mau ngomongin apa ini sama aku? Tadi aku juga diem aja kok pas kalian rapat.”
“Ayo dek cari tempet dulu. Siapin catetan.”
Aku ngikutin aja.
“Yaudah ini apa yang harus aku catet?”
Tapi Mas Ten malah main twitter, terus aku diajak ngomongin hal lain diluar semua topik yang aku perkirakan. Sampai sudah sekitar satu jam kita ngobrol, aku baru keinget lagi.
“Mas, apa yang mau dibahas ini?”
“Gak ada, Ka”
“Hah?”
“Gak ada kok emang masalah yang harus dibahas. Kan tadi udah dibahas di rapat inti.”
“……………………”
Aku, dikerjain apa gimana?

——————————————————————–

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s