Lima Tahun Part 22 : Ada Apa Dengan Hatiku?

Secara tiba-tiba aku merasa bosan dengan relationship sebelum menikah. Entah kenapa. Memang tidak boleh mengambil keputusan saat sedang terlalu senang maupun terlalu sedih karena keputusan itu akan menjadi kesalahpahaman. Aku tidak ingin menikah cepat. Sekarang umurkku baru 21 tahun dan aku tidak ingin cepat-cepat menikah. Aku masih ingin main-main, bekerja, dan pergi traveling kemanapun aku mau. Aku masih menginginkan kebebasan. Aku masih ingin punya banyak pengalaman dan kisah yang ingin kutuliskan.

Aku rasa, aku tidak lagi memusingkan dengan siapa dan kapan aku akan menikah. Yang harus aku lakukan adalah menamatkan sekolah sarjanaku, bekerja, dan jalan-jalan. Tapi aku juga tidak ambil pusing nanti akan bekerja bagaimana dan menjadi apa. Setelah lulus kuliah, aku ingin pergi kemanapun yang aku mau tapi tidak ingin bersama Tama. Aneh memang, tapi itu yang aku inginkan. Aku rasa selama ini Tama sudah banyak main-main dan mengesampingkan studynya. Hidupku bisa dibilang tak semudah hidup Tama. Itu sebabnya aku harus bisa membentuk keberuntunganku sendiri. Realita mungkin tak selalu berjalan mulus, tapi tak pernah ada yang menyalahkan harapan.

“Ka, kita ini sudah masuk umur dimana udah gak perlu lagi nanggepin basa-basi cowok. Tapi juga belum saatnya ke jenjang pernikahan karena kita masih terlalu muda untuk itu. Timing ini kita gunakan untuk berbenah diri dan berhijrah.” Kata salah satu sahabatku menegaskan.

Entah kenapa, aku merasa pertemuan hari ini terasa hambar. Sebelum-sebelumnya aku juga bertemu dengan Tama seperti ini tapi entah mengapa untuk kali ini aku merasa ada yang aneh. Lebih tepatnya ada yang aneh dari hatiku. Aku tidak lagi merasa pertemuan kali ini special. Kita hanya jalan-jalan, lalu beli tiket nonton, lalu ke Gramedia, lalu nonton, lalu makan, dan pulang. Tama malah bingung dan tidak menikmati waktu bersamaku karena besok dia akan liburan ke Jogjakarta beberapa hari. Aku juga ingin cepat-cepat pulang dan menyudahi hari ini, Tam.

Kucincing lengan bajuku
Bersiap lari megejar senja yang siap menjadi gelap
Binasalah aku
Tenggelam dalam duka yang menggelapkan hatiku
Binasalah kau
Terangku berubah menjadi gelapku
Kau tak lagi terang, Sayang
Tak juga redup
Kau gelap tanpa ampun
Membuat hatiku selalu bertanya
“Dimana aku?” ketika bersamamu

Aku semakin bingung ketika aku mulai merasa iri dengan Tama. Aku masih berusaha untuk tidak peduli dengan apapun yang Tama lakukan. Kebebasan Tama adalah yang aku inginkan selama ini. Entah apa yang terjadi dengan hatiku. Mengapa aku tiba-tiba seperti ini kepada Tama? Mengapa tiba-tiba dalam semalam hatiku bisa seperti ini? Iri dengan Tama dan menginginkan kebebasan yang Tama punya. Entah mengapa aku seperti tidak mengenal Tama. Dia jauh lebih bebas. Sangat bebas. Dia belakangan ini jadi sering pegi keluar kota. Dia sibuk. Sangat sibuk dengan kerjaannya. Hampir setiap minggu dia ke Surabaya. Bersamaku atau tidak bersamaku. Tama juga sering memotong waktu kencan kami dan selalu menginginkan pulang lebih cepat.

“Tama, belakangan ini kok kita sering cepet-cepet sih pulangnya”
“Aku banyak kerjaan, Sayang. Aku harus edit video malem ini buat client dan besok persiapan buat motret prewedding.”
“Sering banget Tama. Jobmu sebanyak itu?”
“Ya kamu tau sendiri gimana kerjaanku.”
Kamu ini mau kerja, atau ada orang lain yang ingin kamu temui setelah ini, Tama?. Ucapku dalam hati.

Aku benci ketika feelingku setajam ini, seketika. Dan aku, seperti tidak menganal Tama.

Dalam sosial media
Yang sudah bukan lagi soal teknologi
Ketika server Google mungkin sudah mengenalimu
Dalam hati aku masih mencarimu
Entah siapa kamu

Ada apa dengan hatiku? Aku seakan mencari orang lain. Bukan Tama…

Bersambung…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s