Lima Tahun Part 23 : Pertemuan Para Orang Tua

Agustus, September, Oktober berlalu begitu saja. Kerjaannya Tama sudah bukan lagi pergi keluar kota, tapi ke luar pulau. Pertemuanku dengan Tama jadi sangat terbatas mengingat kerjaan Tama yang gak habis-habis. Dia bisa menghabiskan waktu berhari-hari ketika harus melakukan pekerjaan di luar pulau. Aku berusaha positif thinking dengan Tama. Bukankah aku harus terbiasa dengan yang Tama lakukan sebelum akhirnya nanti kita menuju pada jenjang yang lebih serius? Tapi sampai saat ini, ada yang aneh dengan hatiku sendiri.

Mungkin aku cuma tak bisa pahami
Apa yang aku mau
Mungkin aku cuma tak bisa pahami
Kemana hati ini melangkah
Mungkin aku cuma tak bisa pahami
Bagaimana bentuk cinta sejati
Mungkin yang harus aku pahami
Adalah jangan merusak jalan ceritanya

Dalam perjalanan sepulang nonton…

“Aii, kamu mau rumah yang kayak gimana?”
“Buat apa rumah?”
“Buat kita tempatin kalau nanti sudah nikah”
“Emang kita mau nikah?”
“Iya. Kamu tau, syarat nikah itu, asal aku bisa kasih makan kamu buat besok, kita sudah boleh menikah.”
“Yaudah nikahnya sekarang aja. Besok kalau perlu.”
“Loh ya gak secepet itu, kalau keburu nikah sekarang, aku gak dikasih uang sama orang tuaku.”
“Tadi katanya ngajakin nikah. Gimana sih.”

Seketika aku melihat wajah Tama yang lagi asyik mengemudikan mobilnya. Dan aku, melihat perbedaan di mukanya…

“Eh Tama, kok aku lihat alismu jadi aneh gitu tambah tebel.”
“Soalnya, aku tambah setia sama kamu.”
“Apa hubungannya?”
“Kalau alisnya tebel itu berarti setia”
“Awas kamu kalau sampai selingkuh. Aku habisin alismu.”
“Hahahahah”

Sekarang sudah memasuki bulan November. Dan Tama benar-benar membawa orang tuanya ke rumahku untuk bertemu dengan kedua orang tuaku. Akhirnya orang tua kami bertemu. Aku awalnya merasa aneh dengan pertemuan keluarga seperti ini. Saking terasa anehnya, aku tidak ikut dalam pertemuan itu. Aku lebih memilih diam di dalam kamarku. Aku serahkan semua urusan kepada orang tuaku dan orang tua Tama. Ayah kami saling mengobrol dan bercakap-cakap. Tidak begitu jelas tentang apa yang dibicarakan. Aku tidak berusaha menguping.

Sekitar satu dua jam kemudian, Tama dan orang tuanya berpamitan untuk pulang. Barulah aku berani keluar dari kamarku dan berpamitan dengan kedua orang tuanya Tama. Aku merasa cemas. Aku merasa aneh. Ada yang aneh dengan hatiku. Mungkin karena ini pertama kalinya melihat orang tuaku bertemu dengan orang tua Tama jadi aku merasa sedikit takut. Lalu aku mencoba menghubungi Tama.

‘Tama, gimana tadi? Aku gak tau’
‘Alhamdulillah setuju. Tinggal menetapkan tanggal aku buat nglamar kamu..’

Hatiku tidak karuan. Pikiranku mendadak kacau. Badanku panas dingin. Apa haru secepat ini aku akan menikah?

Hujan ketiga…
Dengan sedikit ingatan tentang kamu
Dengan satu pertanyaan
“Apa masih kamu?”
Ya. Jawabku.

Entah mengapa aku bersedih karena hatiku merasa ragu akan hal ini. Padahal seharusnya aku senang dengan semua kepastian ini. Seharusnya aku tidak merasa seragu ini… Ada apa dengan aku?

Dalam hati aku selalu bertanya tentang siapa kamu
Setiap percakapan tiada akhir
Atau disetiap keheningan yang kita buat
Atau disetiap tawa yang kita lantunkan
Atau disetiap tangis yang kita perjuangkan
Disetiap keluh kesah kehidupan yang sering kali muncul
Disetiap waktu yang kita jalani
Disetiap kemudahanmu memaafkanku
Disetiap kemudahanku memaafkanmu
Disetiap tak adanya kamu
Disetiap hal yang menyentuh hatiku
Siapa kamu?
Lebih tepatnya
Siapa kamu untukku nanti?

Bersambung…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s