Lima Tahun Part 24 : Kisah Kita

Setelah hari pertemuan orang tuaku dan Tama, kami menjalani hari-hari dengan penuh kepastian walaupun dalam hati aku merasa ada keraguan. Tapi aku menepis rasa ragu itu jauh-jauh. Tama sudah serius sama aku, seharusnya aku senang dan menghargai segala bentuk upaya keseriusannya terhadapku.

Tama sibuk dengan kerjaannya sebagai fotografer seperti biasanya. Aku berusaha menemani setiap kali dia memintaku untuk menemaninya bekerja. Aku tidak lagi memikirkan pernikahan kami. Aku berusaha tetap santai dan fokus agar bisa segera mengerjakan skripsi.

Hari-hari kembali menyenangkan seperti dahulu. Hari ini, kami akan berkencan seperti biasa. Mau pergi nonton dan jalan-jalan. Sebelum pergi nonton, aku mau mengambil barang-barangku yang mungkin kebawa atau ketinggalan di Tama. Bukan apa-apa sih, cuma biar semua kembali ke aku aja.

“Tama, aku mau ambil barang-barangku dong yang ada di kamu.”
“Udah gak ada kayaknya. Eh! ada sih tupperwaremu ketinggalan di aku yang waktu itu buat pudding.”
“Iya deh sini aku bawa.”
“Oke.”

Lalu kami menghabiskan hari itu dengan sangat bahagia. Gak tau kenapa aku bisa tertawa lepas banget saat itu. Aku menikmati sekali saat-saat bersama Tama. Aku temenin dia nerbangin drone dan biasanya tugasku nangkep dronenya kalau Tama lagi nerbangin drone. Tapi saat itu Tama bilang, “Aii, dronenya sudah bisa mendarat sendiri. Kamu sudah gak perlu nangkepin drone lagi. Kamu duduk aja.”

Dan sore itu, Tama berkali-kali mengambil gambarku. Merekam semua gerak-gerikku dengan kameranya. Aku sangat senang karena saat itu aku merasa sangat menjadi prioritasnya. Tama sangat fokus kepadaku saat itu. Aku tidak ingin waktu cepat berlalu. Aku merindukan Tama. Aku ingin bersama dengan Tama lebih lama. Hari itu sangat cerah, sama seperti hatiku.

Saat dalam perjalanan pulang dari kencanku dengan Tama yang aku rasa adalah kencan paling menyenangkan dari sejarah kami, tiba-tiba aku terdiam. Dan aku tiba-tiba berkata, “Tama, aku senang bisa jalan-jalan sama kamu. Aku tau kita sangat terbiasa dengan kita. Kalau hubungan antara kita sampai berakhir, kamu pasti akan merasa aneh karena yang ada disampingmu bukanlah aku lagi. Dan aku, aku tidak akan peduli lagi dengan rasa. Jika ada orang lain yang datang dan serius denganku, akan aku terima dia.”

Tama hanya diam mendengarkan kalimatku yang keluar dari mulutku secara tiba-tiba. Aku sendiri juga tidak tau kenapa aku mengutarakan hal tersebut kepada Tama seakan kami akan berpisah.

Keesokan harinya, ketika aku membuka sosial media. Aku membuka Instagramnya Tama dan aku melihat dia memposting model yang beberapa hari lalu dia potret. Aku merasa cemburu. Juga dengan beberapa wanita lain yang ada di sosial medianya.

“Ka, kamu tau instagramnya Tama? bilangin dia jangan ngepost gituan. Dia kayak ngepost perek tau.”
“Iya. Aku coba kasih tau dia.”
“Orang-orang bakal nyangka kalau dia itu badboy, Ka.”

Percakapanku dengan Bunga benar-benar menamparku. Aku selama ini selalu cuek dan menutup mata sedangkan apa yang Bunga bilang adalah benar. Tama tetap badboy. Aku menyerah mengubah kebiasaan Tama. Aku merasa bego sebagai seorang wanita. Aku selalu bersikukuh bahwa aku akan mengubah Tama menjadi lebih baik dan gak badboy lagi. Tapi ternyata aku salah. Aku sama sekali tidak pernah membuat Tama berubah. Aku benar-benar menyerah.

‘Tama, aku sudah tidak bisa lagi memaklumi pekerjaanmu. Aku gak kuat kalau harus terus-terusan cemburu sama kamu. Lebih baik kita jalan sendiri-sendiri aja.’
‘Aku udah gak bisa cegah kamu. Kalau itu yang kamu mau, silahkan.’

This is a modern fairytale
No happy endings
No wind in our sails
But I can’t imagine a life without
Breathless moments
Breaking me down, down, down, down

The bed’s getting cold and you’re not here
The future that we hold is so unclear
But I’m not alive until you call
And I’ll bet the odds against it all
Save your advice ’cause I won’t hear
You might be right but I don’t care
There’s a million reasons why I should give you up
But the heart wants what it wants
-(The Heart Wants What It Wants by Selena Gomez)

Tama sudah berheti memperjuangkan aku.

Kepada, Tama. 

Aku tidak pernah menginginkan keadaan ini. Salam hangat dari dinginnya malam. Aku akan memlukmu dari jauh. Kamu tau? Hal paling mudah yang dapat aku lakukan adalah memaafkanmu dan melepaskanmu. Tidak untuk melupakanmu atau mencari penggantimu. Tapi bagiku, kamu adalah mawar berduri yang semakin kugenggam akan semakin menyakitiku. Bukan kamu yang membiarkan aku bebas, tapi aku yang membiarkanmu bebas.

Kamu selalu coba untuk aku jaga tapi kamu tidak pernah sadar dan mengerti hal itu. Itu adalah kesalahanmu. Dan aku tidak pernah sekalipun marah terlalu lama terhadapmu sebesar apapun kamu melakukan kesalahan. Bahkan detik berikutnya mampu membuatku sepenuhnya memaafkanmu. Jika kamu bisa jawab semua pertanyaan, jawab satu pertanyaanku, kenapa kamu bisa berubah?

Bersambung…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s