Dialog

Sore ini adalah sore tanpa alas kehangatan. Gadis itu duduk terdiam menatap jendela. Senja sore ini adalah senja yang tidak patut untuk ditinggalkan. Udara lembab dengan warna langit yang mengisyaratkan turunnya bidadari senjakala. Gadis itu terus terdiam dalam lamunan tanpa batas. Tidak ada batas, seperti langit jingga yang saat ini dipandangnya. Gadis itu mencoba menghadirkan kedamaian di dalam hatinya yang sedang rusuh.

Dirinya begitu khitmat terbawa suasana yang membawa lamunannya terbang jauh. Tidak ada yang berani mengusik ketentramannya. Bahkan seekor semut tidak akan berani menimbulkan sedikit suara. Jagad raya tau, gadis ini merindukan kedamaian dan ketika dia telah menemukan kedamaian itu, dia tidak akan melepaskannya pergi.

“Aku bingung. Aku terlalu banyak tidak mengerti. Aku selama ini masih berusaha belajar, memahami, dan berusaha memaknai segalanya. Aku juga tidak berusaha membantah setiap nasehat yang datang menerobos gendang telingaku. Aku berusaha mencari segala kebaikan ditengah maraknya keburukan. Tapi tidak sekali dua kali aku merasa kesulitan. Aku sering kali merasa kesulitan. Terlebih ketika segala hal yang selama ini aku pahami, tidak sesuai dengan apa yang aku lihat. Setiap kali aku merasa aneh dengan banyak kejadian yang tidak aku mengerti, aku selalu merenung. Mencari jawaban. Tapi jawaban itu tidak selalu aku temukan.
“Aku butuh lebih dari sekedar bukti. Ayolah beri aku pengertian yang sesungguhnya bagaimana aku bisa mengerti soal hidup. Bahkan ketika aku berbicara dengan diriku sendiri seperti ini, aku masih tidak memiliki jawaban atas apapun. Dimana letak semua jawaban itu? Di surga Firdaus? Apa aku harus menuju kesana agar aku mengerti?”
“Apa sih misalnya salah satu yang kamu bingungkan? Jangan-jangan memang itu semua hanya ada dalam pikiranmu.”
“Tidak! Ini semua nyata. Tidak hanya ada pada pikiranku. Pernah tidak kamu menanyakan untuk apa kamu sekolah?”
“Untuk mendapatkan ilmu dan ijazah. Tidak memungkiri setiap orang butuh bukti agar bisa diakui.”
“Lalu kalau aku hanya sebagai penikmat ilmu-ilmu apakah tidak ada tempat untuk aku?”
“Ada, mungkin dimasalalu saat ilmu belum dikomersilkan. Berapa banyak otak manusia yang telah dipelacuri? Dipaksa untuk mengerti tapi nyatanya mereka tidak benar-benar paham.”
“Namanya juga sudah punya ilmu, wajar jika mereka mengkomersilkan otak mereka untuk orang lain. Kan mereka akan mendapatkan yang sepadan. Seperti gaji atau bayaran misalnya.”
“Iya, sama saja dengan wanita-wanita yang mengkomersilkan tubuh mereka. Aku yakin pikiran mereka bebas sebebas-bebasnya. Karena memang mereka tidak menjual otak dan pikiran mereka. Yang mereka jual adalah tubuh mereka. Hanya beda komoditasnya saja.”
“Sama-sama dapat uang.”
“Ya memang. Bahkan tidak sedikit orang berijazah yang membeli tubuh hanya demi satu malam.”
“Hei. Masih ada moral yang tidak membuat orang yang mau berfikir untuk melakukan itu.”
“Beda lagi kalau moral dijual seribu tiga. Harganya lebih murah dari rokok.”
“Orang yang berpendidikan tinggi, aku jamin moral dia juga baik kok.”
“Iya, benar. Itu kalau mereka memang menerapkan apa yang mereka pahami. Bukan cuma numpang ngerti. Berapa banyak orang yang ngakunya berpendidikan tinggi. Tapi buang sampah seenak jidat. Padahal kalau anak TK di tanya ‘Buang sampah dimana anak-anak?’ mereka pasti jawab, ‘Ditempat sampah, Bu Guruuuu’. Apa lagi yang kamu bingungkan dari mengerti hidup? Bukankah dialog kita sudah cukup panjang? Hidup ini terlalu kompleks buat dipikirin. Nikmatin aja. Kalau belum merasa nikmat, sana beli kenikmatan.”
“Dimana aku bisa membeli kenikmatan?”
“Dimana-mana. Yang jelas jangan pernah punya pikiran menukar mahar dengan kenikmatan.”
“Hahaha gak usah munafik. Yang dicari pengantin baru kan juga kenikmatan malam pertamanya.”
“Memang, tapi pernikahan kan bukan hanya satu malam. Tapi selamanya. Seharusnya begitu.”
“Harusnya…”
“Berapa banyak orang yang terkecoh bahwa ketika mereka menikah, mereka merasa menemukan jodoh. Sehingga mereka terlena dan menggelar resepsi besar-besaran untuk memperlihatkan kebahagiaan.”
“Mereka yang berjodoh sudah pasti menikah, kan?”
“Ya. Tapi belum tentu mereka yang menikah itu adalah jodoh. Jodoh itu, baru bisa di klaim saat maut yang memisahkan. Bukan ketokan palu pengadilan. Juga, berapa banyak api cinta yang akhirnya padam. Seharusnya api cinta itu menghangat menjadi kasih sayang. Bukannya padam dan menjadi ego.”
“Bagaimana biar tetap hangat? Puluhan tahun hidup dengan orang yang sama pasti membosankan.”
“Iya, memang. Karena itu dibutuhkan kreativitas tanpa batas.”
“Pelajaran seni ternyata masih berlaku?”
“Iya. Pelajaran seni untuk saling mengapresiasi hal-hal kecil selama pernikahan berlangsung.”
“Kenapa topik kita jadi kesini. Aku tadi hanya bilang kalau aku bingung.”
“Belajarlah untuk tidak kawatir. Semua itu bisa diatasi. Jadilah bukan hanya orang yang berpendidikan yang bebas, tapi juga bisa bermanfaat bagi orang lain. Yang paling penting, tau dimana harus membuang sampah.”

Suara cicak membangunkan lamunannya. Senja sudah menjadi gelap. Langit jingga kini menjadi taburan bintang-bintang penuh harapan untuk hari esok. Dan, apa tadi? Gadis itu merasakan dialog yang rumit. Itu adalah percakapannya dengan dirinya sendiri. Mungkin ini yang disebut kebebasan berpikir. Bebas berdialog sesuka hati dengan diri sendiri. Cukup untuk merasa tidak sendirian. Tidak perlu mendengat perdebatan dari mulut orang lain. Karena ternyata perdebatan itu bisa ada dalam diri sendiri.

Jika suara cicak itu tidak ada, perdebatan itu mungkin akan terus terjadi hingga besok pagi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s