Ini Catatan Hati, Bukan Catatan Kaki.

Saya hidup pada lingkungan yang laki-laki dan perempuan berbaur menjadi satu kesatuan yang sudah tidak lagi memiliki sekat. Dimana pun saya berada saya pasti dihadapkan dan dipertemukan dengan laki-laki. Saya berpengalaman berada pada lingkungan dimana laki-laki menjadi dominasi. Saya bukan tipikal perempuan yang nyaman bergosip atau bekumpul dengan banyak laki-laki. Maklum, sahabat-sabahat saya semuanya perempuan. Kelompok sosial yang terbentuk di kehidupan saya juga perempuan semuanya. Sekalinya saya berhubungan dekat dengan laki-laki, itu adalah pasangan saya—dan teman-teman pasangan saya. Saya bukan tipikal perempuan yang suka bersahabat dengan laki-laki, karena menurut saya, jarang sekali atau tidak akan pernah ada persahabatan antara laki-laki dan perempuan yang murni karena persahabatan itu sendiri. Sedikit banyak, pasti terbawa perasaan.

Pada masa kuliah—yang banyak laki-lakinya itu, saya akhirnya berbaur dengan banyak laki-laki lain selain pasangan dan teman-teman pasangan saya. Dan akhirnya, saya memiliki banyak teman laki-laki. Sayangnya, saya terlalu peka—walaupun saya sengaja tidak memekakan diri. Sebagian besar laki-laki yang berteman dengan saya, tidak murni ingin benar-benar berteman. Kebanyakan, ada tujuan lain. Saya bilang kebanyakan, itu artinya masih ada beberapa laki-laki yang memang hanya berniat berteman dengan saya.

Saya terkadang lelah, ketika niat saya hanya berteman dengan laki-laki, tapi mereka menganggapnya lebih. Apalagi kalau pernah jalan berdua—walaupun hanya makan siang bareng di kantin. Saya itu lelah dibilang perempuan pemberi harapan palsu. Sebagai seorang perempuan, sejujurnya saya dilema. Saya tau, bahwa saya kuat dan bisa melakukan apapun sendiri tanpa laki-laki. Mau main ke tempat yang jauh sekalipun, saya merasa bahwa saya tidak membutuhkan laki-laki untuk menjaga saya. Saya masih punya teman-teman perempuan saya, yang sama kuatnya sehingga kami dapat saling melindungi. Saya, bisa dikatakan tidak membutuhkan laki-laki. Tapi pernyataan ini tidak selamanya benar. Di satu sisi, sekuat apapun saya, saya membutuhkan satu laki-laki—hanya satu laki-laki, yang bisa mengayomi saya, memberikan rasa aman dan nyaman, yang bersungguh-sungguh menjaga dan ada untuk saya, menjadi tempat bersandar, menjadi tempat bagi saya untuk pulang, dan menjadi penjaga saya dari laki-laki lain. Saya sejujurnya, senang menjaga jarak dengan laki-laki karena rasanya seperti kedamaian tersendiri bagi saya. Sekalinya saya tidak menjaga jarak dengan laki-laki, itu hanyalah kepada pasangan saya.

Dilema lagi, saya itu tipikal perempuan yang bisa cepat nyambung sama laki-laki. Wajar saat sekolah dulu saya tergolong cepat dapat gebetan baru. Walaupun begitu, jauh di dalam hati saya hanya menginginkan satu laki-laki dan memiliki titik lelah untuk lagi-lagi berpindah hati.

Kini saya berada pada titik itu. Titik lelah. Tidak ingin lagi mencari laki-laki lain. Dan tidak ingin dicari oleh laki-laki lain. Hati saya ingin berlabuh, ingin berhenti, pada satu laki-laki.

Dan ini adalah catatan hati, bukan catatan kaki.

Advertisements

2 thoughts on “Ini Catatan Hati, Bukan Catatan Kaki.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s