Perbandingan? HAHAHA

Hari ini saya sedang ingin menuliskan sesuatu yang berkaitan dengan suatu hal yang paling tidak saya suka, yaitu dibanding-bandingkan. Membanding-bandingkan. Terbanding-bandingkan. Bagi saya, yang boleh membandingkan saya dengan orang lain adalah diri saya sendiri. Mengapa? Karena saya tahu batasan emosi dan tekanan dalam batin saya, sedangkan orang lain tidak.

Dihari yang mendung tetapi tidak ingin hujan ini, tidak lengkap rasanya jika tidak ditemani dengan sesuatu yang membuat bahagia seperti hot chocolate, snack, movie, buku, atau mungkin pelukan hangat dari pasanganmu. Tinggal pilih mau bahagia lewat jalur yang mana. Dan saya memilih jalan bahagia untuk mengisi hari yang mendung ini dengan menulis beberapa paragraf dalam blog saya ini. Saya tentu ingin berdiskusi dengan para pembaca disini. Bisa melalui kolom komentar, bisa melalui akun media sosial, atau bisa juga lewat mimpi. Bebas.

Lalu, apa hubungan bahagia dengan perbandingan? Hubungannya adalah ketika saya mulai menjadi bahan perbandingan dengan orang lain, bahagia saya langsung hilang. Berubah menjadi marah dan sedih. Banyak sekali contoh banding-bandingan yang pernah saya rasakan selama ini yang mungkin juga pernah kamu-kamu semua para pembaca rasakan.

Banyak yang bilang, “Hidup ini tidak adil”. Tetapi, bagi saya hidup ini sudah adil kerena Tuhan selalu adil. Jika ada yang merasa tidak adil, yang membuat terasa tidak adil adalah pola pikir setiap individu, sistem yang telah dibuat oleh orang-orang yang berkuasa, dan omongan dari orang-orang yang suka membandingkan hal-hal yang tidak sejajar (if you know what I mean). Maka, jangan terlalu banyak komplain dan cobalah untuk melihat pada sudut pandang yang lain. Seperti yang saya tahu dan pahami, bahwa setiap ada yang terambil dari diri kita, pasti juga ada yang diri kita dapatkan. Jadi begini, pernah saya dibanding-bandingkan dengan seorang wanita yang lebih cantik dari saya, lebih pintar, dan lebih anggun daripada saya.

“Kamu lihat dia, kulitnya putih, gak kayak kamu yang keseringan main jadi hitam”
“Bodynya dia bagus, kamu sih udah kayak orang kurang makan”
“Dia kalau ketawa sama ngomong lembut banget, gak kayak kamu yang pecicilan”
“Dia loh pinter, gak kayak kamu yang gini aja gak bisa”
“Dia loh cantik, kamu? tuh dekil mukanya”

Kalimat diatas adalah sebagian kecil dari banyak perbandingan-perbandingan yang saya rasakan. Kalau saya seorang kriminal, besok dia udah hilang gak tau kemana. Contoh diatas adalah perbandingan dalam bentuk fisik (yang terlihat). Saya akan membahasnya satu persatu dan maafkan saya jika bahasa saya sedikit mengandung sarkasme atau semacamnya. Intinya adalah, orang ini membandingkan kelemahan saya dengan kelebihan ‘si dia’. Pertanyaan saya, mengapa tidak dicoba membandingkan kelebihan saya dengan kelemahan ‘si dia’ sehingga saya bisa menjadi unggul? Atau membandingkan kelemahan dengan kelemahan dan kelebihan dengan kelebihan agar seimbang? Kalimat-kalimat pembanding yang tidak sesuai dengan tata bahasa Indonesia yang baik hanya akan membuat korban banding menjadi tidak bersyukur atas dirinya sendiri dan membuat si pembanding tidak melihat kelebihan dari si korban banding. Tentu menyakitkan jika yang mengeluarkan kalimat-kalimat pembanding itu adalah orang yang kita sayang 😦 jadinya bingung antara mau nge-kick, nge-kill, atau diam saja dengan harga diri yang terinjak 😦

Pertama, dia kulitya putih dan saya hitam. Kenapa dia putih? Bisa saja karena dia suka dirumah, kemana-mana bermobil, pakai lotion SPF 50++ yang harganya selangit, diajak kemana-mana susah karena takut sinar matahari. Saya hitam, tentu bisa menjadi putih jika saya menjalani rutinitas seperti dia. Tapi saya berani bertaruh, saya lebih bisa diajak main kemanapun, pakai kendaraan apapun, asal bisa ketawa bareng dan happy-happy.

Kedua, dia badannya bagus ala biola spanyol dan saya kurus kayak orang kurang makan. Dia badannya bagus bisa saja dia juga mati-matian menjaganya, makan pilih-pilih gak bisa yang berlemak sedikit aja. Saya kurus kayak orang kurang makan, tetapi saya pecinta kuliner. Saya bisa jamin, kuliner bersama saya tidak akan membuat susah karena saya tidak perlu pilih-pilih makanan, tidak masalah diajak makan banyak karena saya susah gemuk. Mau makan cendol pinggir jalan ataupun restoran mahal, oke oke saja.

Ketiga, dia ngomongnya lembut dan saya pecicilan. Lalu? Jika memang tidak suka dengan saya berbicara karena terlalu berisik atau terlalu memalukan, silahkan pergi dan jangan ngomong dengan saya. Masalah kelar. Saya berani bertaruh, saya lebih bisa diajak gokil-gokilan daripada jaim-jaiman.

Keempat, dia pintar dan saya hal seperti itu saja tidak bisa. Jangan berpikiran picik. Setiap orang memiliki batas. Batas itu artinya setiap orang memiliki keahlian dalam bidangnya masing-masing. Setiap bidang, diberi batas agar yang berada di dalamnya adalah orang yang memang mampu dalam bidang tersebut.

Kelima, dia cantik dan muka saya dekil. Wuhuuu rasanya dunia tidak adil karena untuk yang ini, si dia udah cantik dari orok. Dia bentukan masih janin aja udah cantik. Saya boro-boro. Tapi hal ini sudah saya patahkan. Memang, si dia cantik dari lahir, dan saya melakukan berbagai macam perawatan diri biar gak kelihatan dekil lagi. Kini, saya sudah dapat sejajar dengan dia. Dan membuktikan bahwa cantik fisik itu bisa didapatkan. Apalagi dengan teknologi sekarang yang sudah canggih. Kalau punya uang banyak ya bisa oplas atau perawatan dengan skin care yang mahal, kalau punya uang pas-pasan ya bisa perawatan yang masih masuk di kantong, asal sabar. Menjadi cantik fisik itu butuh proses.

Kesimpulan? “Setiap ada yang terambil dari diri kita, pasti juga ada yang diri kita dapatkan”. Dia putih dan saya hitam. Dia mendapat pujian dan saya mendapat hinaan. Dia sering dirumah dan saya menemukan banyak pengalaman baru diluar rumah. Dia bohay dan saya kurus. Dia mendapat pujian dan saya mendapat hinaan. Dia mikir ngejaga makan dan saya sama saja tetap kurus dengan menjaga makan ataupun tidak. Dia ngomongnya lembut dan saya tidak. Dia memiliki citra yang bagus dan saya tidak. Yang penting saya memiliki teman-teman yang asik, gokil, dan tidak jaim.

Tulisan ini adalah pembelaan diri yang tidak saya pungkiri. Pembelaan juga terhadap setiap orang yang sama dengan saya. Dan saya adalah pribadi yang akan selalu protes dengan perbandingan-perbadingan kecuali jika yang dibandingkan adalah iman saya, saya akan diam dan mengaku salah.

Sekian.

Advertisements

4 thoughts on “Perbandingan? HAHAHA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s