Seseorang Part 1

Kadang muncul sebuah pertanyaan secara tiba-tiba di dalam kepalaku, ‘Kenapa harus dia? Kenapa harus dia? Kenapa harus dia?’. Pertayaan ini berputar-putar di dalam kepalaku berulang kali. Lalu lenyap begitu saja, lalu muncul kembali begitu saja. Pertanyaanku hanya satu, tetapi terlalu besar. Setiap kali aku mencoba mengingat kejadian-kejadian yang bersangkutan dengan dia, aku merasa semua serba tidak masuk akal. Rasanya aneh. Aku belum tau secara pasti perasaan aneh ini hadir karena aku yang belum bisa menerima kenyataan atau kenyataan yang terlalu mengagetkan aku.

Kebanyakan orang mengatakannya sebagai takdir. Segala sesuatu yang sudah digariskan dengan atau tanpa usaha.

Aku akan menceritakan sedikit tentang dia. Aku pertama kali mengenal dia sekitar bulan Agustus 2013. Tentu saja saat itu kita memiliki kehidupan kita masing-masing. Kita sekedar kakak tingkat dan adik tingkat, tidak lebih. Kita sekedar teman satu kepanitiaan saat itu, tidak lebih. Pertama kali aku mengenal dia, dia adalah orang yang cukup hmm… kritis. Ya semacam itulah. Orang-orang yang senang mengeluarkan pertanyaan dan pendapatnya seketika itu, mahasiswa pada umumnya. Sayangnya, aku bukan orang seperti itu. Saat itu aku merasa ‘Ini orang kok sangar gini sih’. Pernyataan itu mengandung ambiguitas. Antara aku takut berbicara dengan dia atau aku memang malas membuka komunikasi. Berbulan-bulan aku berada pada satu lingkup yang sama dengan dia. Hampir setiap hari bertemu. Hanya saja tidak ada yang menarik di hari-hari itu.

Setelah cukup lama sekedar mengenalnya, aku mulai tau bahwa dia adalah seseorang yang menyukai… entah puncak, entah suhu dingin, entah sunrise, entah apapun itulah yang membuat seseorang selalu ingin naik gunung. Atau memang dia suka traveling? Aku tidak begitu yakin dengan tebak-tebakanku barusan mengenai apa yang dia suka, hanya saja aku mengetahui beberapa aktivitasnya secara tidak sengaja, tanpa aku bertanya kepada siapapun. Sejujurnya, hal-hal itu sama sekali tidak penting waktu itu. Tidak pernah ada faedahnya untukku ketika aku mengetahui apa aktivitas yang dia sukai.

Waktu berjalan begitu saja. Beberapa kali aku terikat pada kondisi yang diharuskan memiliki kerjasama dengan dia. Termasuk komunikasi di beberapa sosial media seperti Line, BBM, maupun WhatsApp karena sekedar perlu atau iseng. Percakapan kita berakhir dengan salah satu diantara kita tidak membalas. Pikirku, semua itu hanya akan berlangsung sesaat. Hingga pada akhirnya dia masuk semester akhir, dimana mahasiswa pada umumnya mengerjakan skripsi. Dia mengundangku untuk datang di seminar hasil skripsinya dan aku tidak datang dengan alasan.

Pada Oktober 2015, aku mendapatkan kabar bahwa dia telah wisuda. Itu artinya, kini saatnya aku mengejar toga. Sejauh ini, kehadirannya bukan apa-apa. Hanya kakak tingkat. Tidaklah sesuatu yang penting dan berpengaruh dalam hidupku. Aku sangat menyadari ketidakpentingannya saat itu. Dan saat ini, detik ini, detik ketika aku menuliskan tentang dia, aku membuang gengsi, menyadari sepenuhnya, dan mengakui bahwa dia memiliki arti untukku.

______________

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s