Opini : Cita-cita

Hallo semuanyaaaa! ^^

Hari ini gak tau kenapa pengen nulis-nulis aja secara random tentang apa yang aku pikirkan. Opini random kali ini judulnya tentang cita-cita. Cita-cita… hmm menurut aku cita-cita itu adalah tujuan hidup. Tujuan hidup ini bisa digali dengan banyak pertanyaan kayak ‘kamu mau jadi apa sih?’, ‘kamu pengennya apa sih?’, ‘kamu pengen hidup seperti apa sih?’, dan pertanyaan lain yang intinya sebelas dua belas sama itu. Secara pribadi, aku sering melontarkan pertanyaan-pertanyaan itu ke diri sendiri dengan tujuan mengenali diriku sendiri dan memperjelas apa yang menjadi tujuan hidupku. Kalau terus-terusan melihat orang lain dan terus-terusan (dalam intensitas yang tinggi) dengerin maunya orang lain, pada akhirnya hanya akan sia-sia dan tidak akan menjadi apa-apa :”

Bicara soal cita-cita, waktu masih kecil sih ngayalnya pengen jadi dokter. Niatnya ya biar dibilang keren aja sama temen-temen. Terus pas waktu  mau lulus SMA, cita-citanya berubah lagi pengen jadi pengusaha (read: orang yang terus melakukan usaha :D). Jadi bukan yang gila duit terus pengen jadi milyader gitu. Singkat cerita, waktu udah masuk kuliah, lambat laun cita-cita yang sepertinya indah itu mendadak burem. Abu-abu. Kabur. Gak jelas. Pada akhirnya terjadilah yang namanya krisis identitas atau krisis jati diri pada waktu itu. Dan begonya, gak tau bego apa emang pikiran lagi kegelapan sama dosa, bukannya cari solusi eh tapi malah main terus kerjaannya. Waktu itu yang dipikirin cuma main sama kuliah aja sih gak ada yang lain. Pikiran jangka panjang setelah kuliah mau ngapain aja gak ada. Yang penting lulus dulu.

Dan setelah lulus…semakin gak tau mau jadi apa. Sebenernya kegalauannya sama aja sih sama temen-temen lain yang udah lulus. Temen-temen yang lulusnya bareng-bareng pada sibuk sama kehidupannya masing-masing sekarang. Ada yang cari kerja, ada yang lanjut sekolah lagi, dan yang jelas udah harus stop dari yang namanya main-main—yang gak bermanfaat dan cuma buang-buang duit kayak nongkrong terus ngegosipin orang. Karena kegabutan yang masih cukup bisa dikontrol, terciptalah serentetan goals yang sebenernya iseng-iseng aja sih nulisnya—kayak apa yang ada di kepala ditulis aja, jadi gak berekspektasi atau berambisi agar goals itu harus terpenuhi semuanya. Ya kali, bisa gila ntar. Ya kan kalau bisa terealisasi pastinya bersyukur banget, kalau gak terealisasi bukan menjadi masalah yang serius.

Sampailah pada titik dimana aku melakukan perenungan yang cukup dalam—gara-garanya sih habis lihat beberapa video di Youtube juga sih terus jadinya mikir gitu. Bentuk perenungannya seperti ini:

“Kalau setelah ini aku bekerja, menikah, mengumpulka pundi-pundi uang, membesarkan anak, dan menjadi tua lalu mati, terus apa asyiknya hidup? Kok kalau gitu aja kayak garing banget gitu, kayak gak ada esensinya. Sedangkan ketika mati hal-hal yang bersifat duniawi gak akan pernah kita bawa. Bener kata video di Youtube. Logikanya begini, seperti kita menjumlahkan angka-angka, puluhan bahkan ratusan angka-angka kecil yang ketika dijumlahkan menjadi jumlah yang besar, kemudian semuanya akan dikalikan nol ketika kita mati. Itu artinya apa yang kita jumlahkan adalah kesia-siaan. Agar apa yang kita jumlahkan tidaklah menjadi hal yang sia-sia, kita perlu mengkalikan jumlah yang kita dapatkan dengan satu. Pertanyaannya adalah bagaimana agar bisa mendapatkan angka satu? Aku secara pribadi tentu mencari angka satu itu agar apapun yang aku lakukan di dunia ini gak sia-sia. Dan angka satu itu adalah niat kita—niat-niat baik sehingga apapun kerja keras, waktu, tenaga, pikiran yang telah kita keluarga dihitung kebaikan oleh Tuhan.”

Sampai pada pengertian satu dan nol tersebut, akhirnya aku mengerti apa yang harus diluruskan sebelum melakukan segala sesuatu. Dan karena itu juga aku menjadi mengerti apa tujuan kita sebenernya hidup. Kita ini kan makhluk kepunyaannya Tuhan, berasal dari Tuhan, tentu tujuan kita hidup ya segalanya diniatkan untuk Tuhan. Udah bukan waktunya buat terus menerus bersikap egois dan sombong yang maunya cuma diri sendiri yang sukses. Tolong-menolong itu harus, Rek! 😀 Hidup, kalau disimple-in, jadinya: bagaimana kita bisa terus berbuat baik dengan niat yang baik.

Pada akhirnya aku mendapat secerca cahaya di dalam gemelut batin yang abu-abu ini, bahwa aku ingin menjadi orang yang berguna (tapi tetep harus bisa mikir biar gak dibodohi) dan memiliki arti, dalam artian apa yang telah aku lakukan dan korbankan dalam membantu diri sendiri, membantu keluarga,membantu lingkungan, membantu agama, membantu negara, bisa mempunyai nilai kebaikan di mata Tuhan dan nantinya nilai kebaikan itu yang bisa aku bawa mati. Inilah angka satu itu. Tidak ada kata terlambat untuk membuat goals atau tujuan hidup, yang terlambat itu adalah menyadari betapa pentingnya berniat baik dalam setiap goals yang kita buat. Ini yang aku sebut “dibalik tujuan ada tujuan”. Tidak masalah jika mimpi-mimpimu terasa abu-abu dan hidupmu terasa berkabut, yang penting niat kamu jangan.

Nanti waktu dunia berakhir aka kiamat, kita bakal menjadi orang egois kok, yang gak bakal peduli sama orang lain karena kita sibuk menyelamatkan diri kita sendiri. Jadi, berilah atau tolonglah semua yang perlu diberi dan ditolong sebelum datang masa egois itu 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s