Lima Tahun Part 24 : Kisah Kita

Setelah hari pertemuan orang tuaku dan Tama, kami menjalani hari-hari dengan penuh kepastian walaupun dalam hati aku merasa ada keraguan. Tapi aku menepis rasa ragu itu jauh-jauh. Tama sudah serius sama aku, seharusnya aku senang dan menghargai segala bentuk upaya keseriusannya terhadapku.

Tama sibuk dengan kerjaannya sebagai fotografer seperti biasanya. Aku berusaha menemani setiap kali dia memintaku untuk menemaninya bekerja. Aku tidak lagi memikirkan pernikahan kami. Aku berusaha tetap santai dan fokus agar bisa segera mengerjakan skripsi. Continue reading

Lima Tahun Part 23 : Pertemuan Para Orang Tua

Agustus, September, Oktober berlalu begitu saja. Kerjaannya Tama sudah bukan lagi pergi keluar kota, tapi ke luar pulau. Pertemuanku dengan Tama jadi sangat terbatas mengingat kerjaan Tama yang gak habis-habis. Dia bisa menghabiskan waktu berhari-hari ketika harus melakukan pekerjaan di luar pulau. Aku berusaha positif thinking dengan Tama. Bukankah aku harus terbiasa dengan yang Tama lakukan sebelum akhirnya nanti kita menuju pada jenjang yang lebih serius? Tapi sampai saat ini, ada yang aneh dengan hatiku sendiri. Continue reading

Lima Tahun Part 22 : Ada Apa Dengan Hatiku?

Secara tiba-tiba aku merasa bosan dengan relationship sebelum menikah. Entah kenapa. Memang tidak boleh mengambil keputusan saat sedang terlalu senang maupun terlalu sedih karena keputusan itu akan menjadi kesalahpahaman. Aku tidak ingin menikah cepat. Sekarang umurkku baru 21 tahun dan aku tidak ingin cepat-cepat menikah. Aku masih ingin main-main, bekerja, dan pergi traveling kemanapun aku mau. Aku masih menginginkan kebebasan. Aku masih ingin punya banyak pengalaman dan kisah yang ingin kutuliskan.

Aku rasa, aku tidak lagi memusingkan dengan siapa dan kapan aku akan menikah. Continue reading

Lima Tahun Part 21 : Senang

Umurku genap 21 tahun. Ulang tahunku yang ke-5 kali aku rayakan masih bersama Tama. Waktu berlalu sangat cepat hingga tidak terasa masing-masing kami telah menjadi dewasa. Kami semakin sering membicarakan masa depan kami sambil tetap menjalani kesibukan masing-masing.

“Tama, kita pacaran udah lama banget ya ternyata.”
“Tapi kalau aku ditanya, kamu itu sudah bukan pacarku.”
“Terus apa?”
“Istilahnya kamu itu calon.”
“Calon?”
“Calon istri.” Continue reading

Lima Tahun Part 20 : Tama Disini

Asiiiiiik! Hubunganku dengan Tama lagi banyak senengnya nih. Kita udah jarang tengkar karena masalah besar. Palingan juga aku yang ngambek-ngambek dikit hehehe. Ya gapapa sih kan cewek kayak gitu sudah biasa ><

Dua bulan Tama di Malang. Aku menghabiskan banyak waktu bersama dengan dia. Ditambah lagi setelah lebaran, temen-temen IPA1 ngadain jalan-jalan bareng ke Sempu. Aku dulu pengen banget kesana, akhirnya keturutan. Temen-temen IPA1 ini emang solidnya udah gak bisa ditakar lagi. Walaupun di dalamnya banyak konflik, tapi kami selalu seneng-seneng aja waktu ketemu. Continue reading

Lima Tahun Part 19 : Hubungan

Aku dan Tama kembali menjalin hubungan jarak jauh. Sekarang sudah memasuki pertengahan bulan Februari 2014. Dan aku sudah masuk di semester 4 perkuliahan. Aku kembali fresh. Parasaanku ke Tama kembali utuh seperti sedia kala. Menyenangkan sekali ketika hubunganku dengan Tama menjadi lebih selow. Sejak Tama bilang bahwa dia akan membebaskanku dan dia tidak lagi posesif kepadaku, aku merasa hubungan kami semakin membaik.

Di semester 4 ini, ada dua mata kuliah dimana aku sekelas sama Mas Ten. Untung semuanya sudah membaik walaupun awalnya aku kaget waktu pertama kali masuk kelas terus ada Mas Ten duduk di dalem kelas. Continue reading