Selamat Datang Dalam Diriku!

Hatiku adalah lautan luas, yang dapat menampung segala cerita dan rasa tentang kamu.
Pikiranku adalah karang, keras. Cukup keras untuk tidak ragu dalam memilih kamu.
Pelukanku adalah ombak, cukup lembut untuk menarikmu kedalam kedamaian tak terbatas.
Jiwaku adalah angin, cukup mudah bagiku merasuki jiwamu.
Hidupku adalah matahari yang ingin terbenam bersamamu sebagai cahaya yang melahirkan bintang.
Selamat datang dalam diriku!
Tenggelamkan saja dirimu padaku, semua akan baik-baik saja.

Asa

aku meluapkan segala dalam bait
bait puisi
bait doa
bait cerita
menuliskan takdir yang aku inginkan
sendiri
menyambung harap
dalam kata yang tak pernah kau mengerti
membunuh gelisah yang mengakar dalam pikir
dan takdir-takdir terjadi
menjadi lembaran halaman
yang kini aku baca kembali

Bebas

kata orang
setiap manusia bebas
untuk melukiskan takdirnya sendiri
tapi
terkadang aku tak sebebas itu menentukan pilihan
kata orang
aku bebas melakukan apa yang aku mau
tapi
tidak boleh melanggar hak
tidak boleh bepergian sendiri
tidak boleh pulang lebih dari jam dua belas malam
kata orang
aku bebas menentukan pilihan
tapi
harus sekolah tinggi
harus segera menikah
harus segera lulus
kata orang
aku bebas mencari kebahagiaanku
tapi
aku dituntut untuk bisa seperti dia
untuk seperti mereka
untuk seperti kalian
kata orang
aku bebas
itu hanya kata orang

Tidak Bisa Berkata-Kata

.
..
….
……..
…………….
…………………….
………………………………
…………………………………………..
……………………………………………………….
……………………………………………………………………
………………………………………………………………………………..
aku tidak bisa menjelaskan bagaimana bahagianya aku ketika bertemu denganmu

Kini

Sepenuhnya aku sadar. Sakit hati tak lantas membuat kita seperti orang lain. Tak lantas pula membuat aku membencimu. Sepenuhnya aku sadar. Lukaku telah hilang. Bersamaan dengan rasa percaya. Benar kata anak indigo itu. Bahwa aku tidak akan pernah ingin kembali, kepada siapa saja yang telah membuat hatiku menangis. Sepenuhnya aku sadar. Aku terlalu mengenalmu. Tanpa kamu mengenalku. Sepenuhnya aku tau. Dari matamu, berkali-kali kamu ingin kembali. Aku memahami. Tanpa perlu kamu utarakan. Jika memang kamu ditakdirkan untuk merindukanku dan terjatuh selamanya dalam penyesalanmu, aku turut berduka atas matinya hatimu.